RPJMD

A+ A A-
Super User

Super User

Dinas PUPR Jawab Tudingan Warga Terkait Jalan Sikapat-Gumelar

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Wonosobo, Widi Purwanto menjawab protes warga terkait kondisi jalan penghubung Desa Sikapat-Gumelar di Kecamatan Wadaslintang yang rusak dan kemudian diperbaiki sendiri secara swadaya.  Melalui media sosial, warga menuding Pemerintah Kabupaten Wonosobo abai terhadap kondisi jalan desa tersebut. Ditemui di ruang kerjanya, Senin (22/4), Widi mengaku petugas di Unit Pelaksana Teknis setempat telah melakukan cek lapangan terkait kondisi jalan yang viral di media sosial tersebut. Pada prinsipnya, Widi mengaku apresiatif terhadap langkah warga untuk bergotong royong membenahi kerusakan jalan, namun pihaknya menyayangkan hal itu tidak dikomunikasikan ke Dinas PUPR terlebih dahulu.

DANDIM MEWISUDA PENGHAFAL AL QURAN

Sebanyak 7 orang yang telah hafal Al Qur’an 30 Juz (Hafidz) diwisuda oleh Komandan Kodim 0707/Wonosobo Letkol Czi Fauzan Fadli, SE dalam acara Haflah Khotmil Quran Ponpes Mahad Mambaul Qur’an Munggang Mojotengah ke X berlangsung sangat hidmad (21/4)

Dalam sambutannya Letkol Czi Fauzan Fadli, SE menyampaikan selamat kepada para wisuda yang hari ini sudah bisa menghatamkan Al Qur’an sebanyak 30 juz. Semoga ilmu yang telah didapat ini menjadi bekal hidup yang akan datang.  Wisuda Al Qur’an mempunyai kebanggaan tersendiri bagi keluarga, masyarakat sekitar.  Sebab orang yang menghafal Al Qur’an itu membanwa barokah bagi sekitarnya.

Saat ini generasi muda sebagai penerus bangsa harus mempunyai tekat yang kuat dalam membentuk  dan membentengi diri dari pengaruh budaya asing yang tidak pas dengan budaya kita. Salah satu dalam upaya membentengi diri adalah dengan memperdalam Al Qur’an. Itu yang dibutuhkan oleh negara Indonesia yang saat ini sedang mengalami krisis mental. Kita semua setuju  jika orang yang mempedomani hidup dengan Al Qur’an pasti tidak akan korupsi.

Dr KH Muhotob Hamzah menyampaikan bahwa yang membedakan orang beragama Islam dengan orang ateis adalah kalau orang ateis mereka hanya berfikir dengan logika saja, tanpa mendasari ada kekuatan diluar sana. Sehingga mereka mudah stres jika terbentur masalah.  Bnerbeda dengan orang yang hidupnya berpegang agama.   Mereka akan bersandar kepada Allah SWT, sehingga masalah akan menjadi ringan.

KH Ahmad Zuhdi M.Ag selaku pengasuh pondok MMQ Munggang Mojotengah menyampaikan manfaat menjadi seorang hafidz adalah Hati seorang individu Muslim tidak kosong dari sesuatu bagian dari kitab Allah ‘Azza wa Jalla. Memperoleh penghormatan dari Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam. Penghafal Al Qur’an akan memakai mahkota kehormatan.  Dapat membahagiakan kedua orang tua, sebab orang tua yang memiliki anak penghapal Al Qur’an memperoleh pahala khusus.   Akan menempati tingkatan yang tinggi di Surga Allah ‘Azza wa Jalla.  Penghafal Al Qur’an adalah keluarga Allah ‘Azza wa Jalla. . Menjadi orang yang arif di surga Allah ‘Azza wa Jalla.
Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam “Dari  Anas Radhiyallahu ‘anhu Bahawasanya Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda; “Para pembaca Al Qur’an itu adalah orang-orang yang arif di antara penghuni surga,”

 Memperoleh penghormatan dari manusia.  Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam  “Dari  Abu Musa Al Asya’ari Radhiyallahu ‘anhu Ia berkata bahawasanya Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: “Diantara perbuatan mengagungkan Allah adalah menghormati Orang Islam yang sudah tua, menghormati orang yang menghafal Al-Qur’an yang tidak berlebih-lebihan dalam mengamalkan isinya dan tidak membiarkan Al-Qur’an tidak di amalkan, serta menghormati kepada penguasa yang adil.” Hatinya terbebas dari siksa Allah ‘Azza wa Jalla.  Mereka (bagi kaum pria) lebih berhak menjadi Imam dalam shalat. Disayangi oleh Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam. Dapat memberi syafa’at kepada keluarga. Dan yang paling  penting manusia akan mati bekal mati yang terbaik adalah al Qur’an yang diamalkan.


  menghafal Al Qur’an bukanlah perkara yang mudah, dibutuhkan keinginan yang kuat, keistiqamahan, kesabaran, dan disertai dengan upaya nyata yakni mau memulai dan terus berusaha tanpa kenal lelah apalagi kata “menyerah”, namun menghafal Al Qur’an juga bukanlah amalan yang mustahil untuk dikerjakan oleh siapa pun, sampai kepada kita yang memiliki seabrek kesibukan lainnya, namun perlu kami ingatkan sekali lagi, bahwa harus sabar dan istiqamah.

 

Irfani Indrayani Salah satu wisuda hafid juga mahasiswi Unsiq Jurusan Tarbiyah asal dari Semarang menyampaikan hari ini sangat bersukur kepada Allah SWT karena diwisuda menjadi seorang khafidoh, apalagi yang melantik adalah seorang Dandim. Itu sungguh sangat membahagiakan sekali. Jarang terjadi pelantikan hafidz oleh aparat keamanan, biasanya kyai.

Untuk menempuh menjadi seorang hafidz dibutuhkan 3,5 tahun. Yang paling berat adalah mengusir rasa malas saat menghafalkannya, akan tetapi cita citanya maka rasa malas itu bisa disingkirkan. Memang membagi waktu untuk kuliah dan menghafal al Qur’an membutuhkan perjuangan yang berat. Akan tetapi hari ini bisa terbayar lunas.

Yang menjadi penyemangat adalah ingin memberikan hadiah mahkota kepada kedua orang tuanya besok di akhirat. Itu sebagai bentuk darma bakti kepada orang tua.  Demikian penyampaian Irfani.

 

Kontributor ; PENDIM 0707 / Wonosobo

 

Gagasan Tempat Pemotongan Unggas Halal Dimatangkan

Dinas Pangan Pertanian Peternakan dan Perikanan (Paperkan) tengah berupaya mematangkan rencana membangun rumah pemotongan unggas (RPU) yang nantinya akan menghasilkan produk pangan asal hewan berstandar aman sehat utuh halal (ASUH). Menggandeng Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Wonosobo, rencana pembangunan RPU standar halal tersebut disebut Kepala Dinas Paperkan Abdul Munir akan secepatnya disosialisasikan ke berbagai pihak. “Setidaknya untuk tahap awal kami sudah mengantongi tiga nama pengusaha yang bersedia merubah tempat pemotongan ayam menjadi rumah potong unggas standar halal sesuai syarat MUI,” terang Munir ketika ditemui di kantornya, Kamis (18/4).

Ihwal munculnya gagasan pembuatan RPU tersebut, menurut Munir disebabkan banyaknya temuan di lapangan saat melakukan inspeksi terhadap produk pangan asal hewan, ternyata masih kurang memenuhi syarat ASUH. Banyak daging ayam yang diperjual belikan di pasar-pasar tradisional diketahui dipotong dengan tidak sempurna, sehingga syarat halal bagi konsumen disebut Abdul Munir menjadi tidak terjamin. Dari hasil diskusi dengan sejumlah pihak, termasuk Majelis Ulama Indonesia hal tersebut kemudian memicu beragam usulan dan bahkan menjadi bahan analisa kesehatan masyarakat Wonosobo. “Ketua MUI Wonosobo, Doktor KH Muchotob Hamzah bahkan menyebut kualitas produk pangan asal hewan seperti ayam potong yang kurang baik dan tidak memenuhi standar halal itu bisa saja menjadi salah satu penyebab banyaknya pasien gagal ginjal dan bahkan perilaku keseharian warga,” tuturnya.

Analisa tersebut, dikatakan Munir kemudian berkembang menjadi gagasan untuk melakukan upaya inspeksi ke sejumlah tempat pemotongan ayam yang terdaftar di Dinas Paperkan. Hasilnya, petugas dari Dinas melaporkan bahwa di tempat-tempat pemotongan ayam, banyak tukang potong ayam yang  belum menguasai teknik pemotongan ayam secara sempurna. Selain itu, kondisi lingkungan di sejumlah rumah potong ayam diketahui jauh dari kata ideal, karena instalasi pembuangan limbah bercampur dengan tempat potong, sehingga kemungkinan bakteri-bakteri dari limbah mencemari daging ayam sangat besar.

Bersama MUI dan Kementerian Agama Kabupaten pula, pihak Dinas Paperkan diakui Munir sempat membuka program pelatihan bagi juru sembelih halal (JULEHA). “Kami membawa para JULEHA dari berbagai organisasi seperti NU, Muhamadiyah, Rifaiyah, LDII dan MTA untuk mengikuti pelatihan penyembelihan hewan secara halal di Balai Besar Pelatihan Peternakan di Malang, Jawa Timur. “Harapan kami nantinya sekembali ke Wonosobo mereka dapat mengajarkan ilmunya di lingkungan masing-masing,” bebernya.

Selanjutnya, setelah upaya peningkatan kapasitas SDM Juleha, Kepala Bidang Peternakan, drh Sidik Driyono menyebut mereka juga mesti difasilitasi rumah potong yang sesuai standar higienitas produk pangan untuk diperjual belikan di masyarakat. “Dari sekitar 101 rumah pemotongan ayam yang ada di Wonosobo, sementara ini sudah ada 3 orang pemilik yang bersedia nantinya menjadi percontohan tempat pemotongan unggas stadar halal,” terang Sidik. Ia berharap, upaya pematangan dan sosialisasi terkait rencana tersebut secepatnya dapat dilakukan, termasuk di depan Bupati dan jajaran pimpinan dewan agar dapat segera terwujud.

Subscribe to this RSS feed

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/sobokab/website/libraries/joomla/filter/input.php on line 656

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/sobokab/website/libraries/joomla/filter/input.php on line 659