Jurnalisme Warga

A+ A A-

Hari Pungut Sampah Internasional, Papelink Gandeng Lintas Elemen Bersihkan Pasar Induk

Paguyuban Penggiat Lingkungan (Papelink) ASRI Wonosobo memperingati Hari Pungut Sampah Internasional 2019 dengan membersihkan kawasan Pasar Induk dan seputaran Masjid Jami’, bersama sejumlah elemen masyarakat, Jumat (27/9) lalu. Diharapkan, dengan kegiatan yang diikuti pula oleh Aparat Sipil Negara dari Rutan Wonosobo beserta warga binaannya tersebut, akan mampu meningkatkan budaya hidup bersih dan peduli terhadap sampah yang ada di lingkungan sekitar. Astuti Farida, Ketua Papelink ASRI menyebut inisiatif untuk menggelar peringatan Hari Pungut Sampah Internasional mendapat dukungan dari banyak pihak.

“Untuk kegiatan aksi bersih-bersih dalam rangka HPSI 2019 kami menggandeng seitar 400 orang dari unsur TNI KODIM 0707, Wanita Hasanah Wonosobo, Dharma Wanita Persatuan, Dinas Lingkungan Hidup, BPBD, Pemerintah Kelurahan Wonosobo Barat, warga masyarakat Kliwonan, Paguyuban Pedagang pasar Induk, serta Paguyuban PKL sekitar alun-alun dan Bank Sampah Prajuritan Bawah,” terang Astuti ketika ditemui di sela kegiatan rutin Papelink ASRI, Rabu (2/10).

Area seputar pasar Induk, mulai dari jalan tengah di sekitar Rutan, depan Masjid Jami’, hingga taman di kawasan Kantor Arsip dan Perpustakaan Daerah, menurut Astuti menjadi sasaran kegiatan bersih-bersih. Dari peringatan Hari Pungut Sampah, yang secara internasional disebut sebagai World Clean Up Day tersebut, ia juga mengakui ternyata selama ini warga masyarakat banyak yang belum mengerti bahwa di setiap bulan September ada moment penting sebagai bagian dari Hari Lingkungan Hidup Dunia. “Dari aktivitas bersih-bersih di seputaran pasar tersebut, kita semua juga berharap agar masyarakat makin menyadari bahwa sampah juga menjadi problem warga dunia, yang memerlukan pemikiran bersama serta aksi nyata,” tandasnya.

(Jurnalisme Warga – Papelink ASRI Wonosobo – Astuti Farida)

Warga Kebrengan Gelar Merdi Desa

Warga Desa Kebrengan, Kecamatan Mojotengah menggelar Merdi Desa, bertepatan dengan Hari Jadi Desa, pada Senin (9/9). Merdi Desa, dijelaskan Kepala Desa Helmi Sultonudin, merupakan upacara adat Jawa, sebagai ucapan rasa syukur warga masyarakat atas karunia yang telah diberikan oleh Tuhan. Meski mulai banyak yang meninggalkan tradisi Merdi Desa, Helmi menyebut tradisi ini masih menjadi salah satu acara tahunan yang patut dilestarikan sebagai salah satu kekayaan ragam budaya yang ada di Indonesia, khususnya budaya adat Jawa.

Merdi desa sering pula disebut bersih desa atau ada beberapa yang menyebut suronan karena berlangsung di bulan Suro. Acara ini merupakan simbol rasa syukur masyarakat, atas limpahan nikmat yang diberikan Tuhan baik nikmat berupa rezeki, keselamatan, ketentraman, dan keselarasan hidup. Bahkan ketika duka pun masih banyak yang pantas disyukuri. “Selain sebagai ucapan rasa syukur, acara Merdi desa juga bisa menjadi acara untuk mempererat tali persaudaraan antar sesama warga masyarakat desa dan juga untuk mengenang jasa para pendiri desa,” tutur Helmi.

Di Desa Kebrengan, Merdi Desa digelar pada September sekaligus bertepatan dengan hari jadi desa kebrengan yang ke-95. Seluruh lapisan warga masyarakat Desa Kebrengan, mulai dari anak-anak hingga orang tua turut serta dalam Merdi Desa ini. Karena acara ini berlangsung setiap tahun maka antusias warga masyarakat begitu besar hal ini juga sekaligus menjadi cara warga Desa Kebrengan dalam melestarikan tradisi jawa yang sudah mulai ditinggalkan.

Rangkaian Merdi Desa berlangsung selama 3 hari diawali dengan acara ziarah ke makam para pendiri Desa Kebrengan yaitu Kyai Kebreng, Kyai Abdul Mantan, Kyai Abdul Jabar, dan Kyai Nasihun sekaligus disertai acara bersih makam (nyadran). Kemudian acara dilanjutkan pada hari kedua yaitu dengan pertunjukan kesenian khas Desa Kebrengan yaitu Jurus Kumala, dan diakhiri dengan acara puncak acara selamatan Merdi Desa dan pertunjukan kesenian tari topeng Lengger khas Wonosobo.

Acara puncak Merdi Desa, seperti diungkap Ketua Karang Taruna, Feri Ibnu Khaban adalah acara yang sangat ditunggu oleh warga masyarakat desa kebrengan dimana seluruh warga masyarakat melebur jadi satu, berpadu dalam satu rombongan berkeliling memutari desa dengan membawa gunungan hasil kreasi mereka yang terdiri dari gunungan nasi atau tumpeng, gunungan sayuran, gunungan buah bahkan ada beberapa gunungan raksasa yang dibuat oleh masing masing rombongan.

Selain gunungan, Feri menyebut rombongan juga diisi anak anak dan ibu ibu yang ikut serta memeriahkan perjalanan menuju tempat Merdi Desa yaitu di balai Desa Kebrengan. Barisan pemuda yang tergabung dalam organisasi Karang Taruna Mandiri Desa Kebrengan juga menjadi salah satu penggiat yang ikut berpartisipasi dalam acara ini. Setelah sampai di balai desa acara dilanjutkan dengan bernostalgia mengenang sejarah Desa Kebrengan sekaligus doa bersama seluruh masyarakat desa. Setelah berdoa gunungan yang dibawa akan diperebutkan seluruh warga tanpa terkecuali mulai dari anak-anak hingga orang tua dan makan bersama kemudian ditutup dengan pertunjukan kesenian tari topeng Lengger.

Kompak Pakai Lurik Untuk Lestarikan Adat Dan Budaya Jawa

Gelaran lomba gerak jalan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-74 Republik Indonesia di Kelurahan Mudal Kecamatan Mojotengah berlangsung semarak dan penuh semangat, Jumat (16/8). Meski dimulai ketika matahari sedang terik selepas tengah hari, para peserta baik dari kelompok Pria maupun wanita justru terlihat sangat antusias dan atraktif. Salah satu regu dari RW 10, Perumahan Permata Hijau bahkan terlihat sangat kompak karena baik delegasi putra maupun putrinya berkostum Lurik Khas Jawa Tengah tempo dulu. Meski dipadu dengan aksesori kekinian seperti sepatu olahraga dan kaos tangan, serta sebagian tetap mengenakan hijab untuk regu putri, mereka tetap terlihat kompak dan serasi. Iket di kepala anggota regu putra dan caping khas petani bagi regu putri semakin menampakkan kekhasan busana jawa.

Aris, ketua regu putra perwakilan RW 10 Perumahan Permata Hijau menerangkan pemilihan busana untuk peserta lomba gerak jalan tak lepas dari ide ibu-ibu yang mengusulkan untuk menampilkan unsur tradisional dalam lomba. “Yang memilih kostum memang ibu-ibu karena kami menilai mereka memiliki jiwa seni lebih tinggi dalam hal busana, namun dari awal kita sepakat untuk mengedepankan upaya melestarikan adat dan istiadat jawa yang sarat makna,” terang Aris ketika ditemui sebelum mulai start di depan Balai Kelurahan Mudal. Selain sebagai upaya melestarikan adat dan budaya jawa, kostum lurik tersebut diakui Aris memiliki pesan edukatif yaitu sebagai simbol semangat untuk berkarya dan bekerja. Ia berharap, warga masyarakat Kelurahan Mudal yang turut menonton jalannya lomba gerak jalan akan menangkap pesan tersebut dan semakin semangat dalam berkarya mengisi kemerdekaan.

Senada dengan Aris, Ketua RW 10 Perumahan Permata Hijau, Endang Hambali juga menyebut bahwa busana lurik khas Jawa sangat tepat dipilih untuk memeriahkan HUT RI ke-74. “Para peserta lomba yang mewakili RW 10 ini kombinasi antara senior dan yunior, alias sebagian sudah berumur dan sebagian lagi masih relatif muda, sehingga tepat kalau dikenalkan dengan kostum lurik sebagai busana adat Jawa Tengah,” tutur Endang. Hal itu menurutnya sudah membangkitkan semangat sejak dimulainya latihan gerak jalan, yang lebih banyak di waktu malam hari mengingat kesibukan bekerja bapak-bapak di siang harinya. Meski relatif singkat dalam waktu latihannya, regu putra maupun putri dinilai Endang sangat kompak dan penuh semangat. “Karena target utama adalah turut berpartisipasi dalam memeriahkan peringatan HUT RI di tingkat Kelurahan, tentu target tidak sekedar juara atau tidak, melainkan agar kami sebagai bagian dari warga masyarakat Mudal juga merasakan atmosfer keguyuban dan keselarasan dengan lingkungan di sini,” tandasnya.

(Jurnalisme warga – Regu Gerak Jalan RW 10 Perumahan Permata Hijau, Kelurahan Mudal Mojotengah)

Paskibra Kecamatan Sapuran Cukuran Massal

Sejumlah 45 pelajar yang akan bertugas sebagai pengibar bendera dalam upacara peringatan proklamasi kemerdekaan RI ke-74 di Kecamatan Sapuran, menjalani prosesi potong rambut massal, Senin (12/8). Cukur massal tersebut, menurut Instruktur Paskibra Sapuran, Pelda Ahmad Yani dan Bripka Sandi, adalah untuk keseragaman model rambut pasukan pengibar bendera pada saat menjalankan tugas mulia mereka di alun-alun kecamatan setempat, Minggu 17/8 mendatang. “Selain keseragaman model rambut, penampilan baru mereka juga agar nantinya lebih prima ketika tampil di hadapan para peserta upacara dan tamu-tamu kehormatan yang hadir,” jelas Pelda Ahmad Yani, ketika ditemui di sela prosesi cukuran massal di Pendopo Kecamatan.

Inisiatif para instruktur paskibra untuk membuat para pelajar terlihat lebih prima ketika bertugas tersebut mendapat apresiasi dari Camat Sapuran, Edi Usman. Diakui Edi, 45 anak yang terdiri dari 26 siswa dan 19 siswi dari SMA Negeri Sapuran tersebut memang semestinya terlihat lebih menarik ketika mereka tampil bertugas di peringatan Hari Kemerdekaan RI. Momentum upacara kemerdekaan di alun-alun Kecamatan Sapuran, menurutnya selalu menarik minat warga masyarakat luas untuk turut menyaksikan. Dengan tampilan yang lebih segar dan seragam, ia meyakini para peserta upacara maupun warga yang menyaksikan akan memberikan atensi lebih. “Yang tidak kalah penting, setelah tampil lebih segar dengan potongan rambut baru, adik-adik paskibra ini kita harapkan untuk terus menjaga kesehatan dan kebugaran agar nanti benar-benar siap menjalankan tugasnya,” tandas Edi.

Sementara, Ketua Panitia HUT RI Kecamatan Sapuran, Bambang Triyono ketika ditemui terpisah mengungkapkan harapan prosesi peringatan Hari Kemerdekaan di Sapuran sudah siap dilaksanakan. “Selain mempersiapkan paskibra, venue untuk upacara 17 Agustus mendatang juga kita siapkan sebaik mungkin, demi kelancaran dan kenyamanan semuanya,” terang Bambang. Ia berharap, agenda peringatan HUT RI ke-74 di Kecamatan Sapuran benar-benar berjalan sebagaimana yang telah direncanakan, kondusif, aman dan sukses.

PHBI Permata Hijau Bagikan 400 Paket Daging Kurban

Hari Raya Idul Adha 1440 H menjadi momen membahagiakan bagi segenap warga RW 10 perumahan permata Hijau, Mudal, Mojotengah. Kebahagiaan dan kegembiraan warga tersebut tak lepas dari keberhasilan Panitia Hari Besar Islam (PHBI) setempat menuntaskan amanah untuk menyembelih 3 ekor sapi dan 22 ekor kambing seusai pelaksanaan sholat Ied, Minggu (11/8). Bangun Setyowardoyo, ketua PHBI Permata Hijau pada Idul Adha 1440 H mengungkap kunci keberhasilan melaksanakan pemotongan hewan kurban dalam jumlah cukup besar tersebut adalah pada kekompakan warga. “Sejak mulai dari pemasangan tenda untuk pelaksanaan sholat ied di jalan utama perumahan, sampai proses penyembelihan, maupun pembagian daging hingga pembersihan kotoran dikerjakan secara bersama-sama hampir seluruh warga RW 10 ini,” terang Bangun. Tak hanya bapak-bapak saja, kekompakan dalam mendukung terselenggaranya prosesi pemotongan hewan kurban, menurutnya juga ditunjukkan kaum ibu di komplek perumahan yang baru sekitar 11 tahun berdiri tersebut.

Pihaknya sebagai panitia, diakui Bangun berupaya untuk memberikan fasilitasi secara optimal termasuk dalam mengakomodasi para sohibul qurban yang menitipkan uang, maupun yang membawa sendiri hewan kurbannya. Untuk sohibul kurban yang menitipkan uang kepada panitia, Bangun menyebut besarannya hampir sama, yaitu 2,9 Juta untuk seekor kambing, dan 3 juta Rupiah untuk kurban sapi yang dikumpulkan secara rombongan sebanyak 7 orang per ekor nya. “Alhamdulillah hingga hari terakhir pendaftaran pada 3 Agustus lalu, jumlah sohibul kurban mencapai 43 orang, dengan rincian 22 orang berkurban kambing, dan 21 orang berkurban 3 ekor sapi,” bebernya.

Agar daging kurban dapat dibagikan sedini mungkin, pihak panitia diakui Bangun sudah mempersiapkan semuanya sejak sebelum subuh, sehingga setelah sholat dan khutbah Ied warga langsung bekerja sesuai dengan tugasnya masing-masing. Dari hasil pemotongan hewan kurban warga RW 10 tersebut, panitia disebut Bangun berhasil membagikan paket daging sejumlah 400 kantong. “Sebagian besar untuk warga perumahan, dan sebagian lainnya dialokasikan untuk warga di luar komplek perumahan yang sebelumnya telah menerima kupon dari PHBI,” jelasnya.

Ketua RW 10 Perumahan Permata Hijau, Endang Hambali ketika ditemui di sela pembagian daging kurban mengaku sangat bersyukur pada perayaan Idul Adha 1440 H ini, kesadaran warga untuk berkurban semakin meningkat. Pihak panitia, diakui Endang juga sangat sigap sehingga meskipun terhitung berat, pekerjaan memotong hewan kurban hingga proses pembagian berjalan lancar. “Pemotongan hewan kurban di Permata Hijau juga sudah sesuai syariah, sehingga kita meyakini daging kurban yang dibagikan benar-benar memenuhi unsur aman sehat halal dan utuh alias ASUH, sebagaimana yang dipersyaratkan oleh pihak Dinas Peternakan Kabupaten,” tandasnya.

Subscribe to this RSS feed

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/wsbkabgoid/public_html/website/libraries/joomla/filter/input.php on line 656

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/wsbkabgoid/public_html/website/libraries/joomla/filter/input.php on line 659