LRA 2017

A+ A A-

Terjaring OPB, Sebagian Besar Pengguna Jalan Mengaku Lupa Bawa Masker

Hanya dalam kurun waktu dua jam, tak kurang dari 120 orang terjaring operasi pembatasan bersyarat (OPB) di Posko Terminal Type A Mendolo, Wonosobo, Rabu (8/7/2020). Sebagian besar dari mereka mengaku kelupaan tidak membawa masker, membawa tapi lupa mengenakan, hingga sengaja tidak mengenakan karena merasa tak nyaman maupun kurang bebas bernafas. "Tadi dari Semarang masih pagi dan buru-buru sehingga tidak membawa masker," jawab Kris (22) dan Andy (23), pengemudi mobil bak terbuka yang mengaku dari Semarang hendak menuju Dieng, ketika ditanya petugas kenapa tidak mengenakan masker.
 
Bagi para pengendara, baik roda dua, roda empat maupun jenis kendaraan besar seperti truk, bus dan kontainer yang diketahui tak bermasker saat melintas di posko Mendolo, petugas langsung meminta agar mereka berhenti. "Wajib turun dari kendaraan, lalu cuci tangan dan menjalani cek suhu tubuh untuk memastikan setiap pengemudi maupun penumpang tidak dalam keadaan sakit atau memiliki potensi terpapar virus Corona," jelas Kepala Dinas Perumahan Permukiman dan Perhubungan, Bagyo Sarastono di sela pemantauan OPB tahap kedua di Terminal Mendolo. Bagi pengguna jalan yang tidak berbekal masker, petugas menyediakan masker gratis ataupun pilihan untuk membelinya di penjual masker terdekat.
 
Giat OPB, ditegaskan Bagyo masih digelar meski selama 3 pekan terakhir di Wonosobo tidak ada lagi kasus Covid-19 positif. Masa pandemi akibat masih merebaknya virus asal Tiongkok itu di lingkup regional maupun Nasional disebut Bagyo menjadi dasar pelaksanaan operasi, demi menekan potensi penularan di wilayah Kabupaten Wonosobo. Mengacu pada Surat Edaran Menteri Perhubungan Nomor 11 Tahun 2020, Bagyo juga menerangkan pentingnya pengawasan dan pengendalian moda transportasi di masa pandemi Covid-19, mengingat mobilisasi warga masyarakat antar daerah justru terus meningkat selama beberapa waktu terakhir. Karena itulah, dalam upaya meminimalisir resiko penyebaran virus, pada OPB tahap kedua ini, pihaknya mengaku masih mengaktifkan 3 posko di Sawangan, Mendolo dan Sapuran hingga tanggal 14 Juli mendatang. Di setiap posko, Bagyo menyebut tim gabungan diperkuat 20 sampai 25 petugas dari Unsur TNI-Polri, Disperkimhub, Satpol PP, Dinas Kesehatan serta Dinas Kominfo Kabupaten. Para petugas tersebut, pada setiap harinya akan menjalankan operasi mulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 20.00 WIB, dalam dua shift yaitu pagi hingga siang, dan siang hingga malam.
 
Diharapkannya, melalui OPB kesadaran warga masyarakat untuk lebih disiplin dalam mematuhi protokol kesehatan ketika berkendara akan semakin meningkat. “Selain dilakukan cek suhu tubuh, setiap pengguna jalan selalu kami imbau agar tidak mengabaikan pentingnya mematuhi protokol kesehatan dalam rangka mengeliminir potensi penyebaran virus Corona, agar kondisi di Kabupaten Wonosobo yang saat ini sudah membaik, bisa ditingkatkan lagi sampai Covid-19 ini benar-benar hilang selama-lamanya dari muka bumi kita tercinta ini,” pungkasnya.

Lestarikan Sungai, Puluhan Ribu Benih Ikan Ditebar Di Sungai Sanggaluwang

Sebagai upaya pelestarian sumber daya ikan di Perairan Umum Darat, dalam hal ini sungai, sedikitnya 30 ribu ekor benih ikan di tebarkan di sungai Sanggaluwang desa Wonokerto Kecamatan Leksono. Selasa (7/7/2020). Hal ini dilakukan berkat kerjasama antara Pemerintah Kabupaten Wonosobo dan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah, serta didukung oleh Kelompok Masyarakat Pengawas “Serayu”.

Seperti diketahui, stok jumlah ikan di Perairan Umum Darat kini cenderung semakin menurun, akibat eksploitasi penangkapan ikan, penangkapan ikan dengan alat yang dilarang, tidak adanya Fish Way pada konstruksi bendungan, pencemaran, dan lain sebagainya. Maka dari itu, kegiatan Restocking adalah salah satu upaya untuk meningkatkan stok ikan di perairan umum, dengan cara menebarkan benih ikan pada perairan yang dinilai telah mengalami overfishing. Kegiatan restocking ini juga merupakan salah satu solusi, untuk meningkatkan populasi ikan di sungai, dengan dukungan maksimal dari semua pihak.

Dirjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Drama Panca Putra mengungkapkan, kegiatan penyebaran benih ikan ini bertujuan untuk menjaga ekosistem ikan di perairan umum darat karena selama ini tidak hanya di Wonosobo namun juga di Jawa Tengah masih banyak penangkapan ikan yang tidak wajar dan tidak ramah lingkungan, seperti menggunakan alat setrum. “Kami berharap masyarakat Wonosobo dapat lebih peduli lingkungan, khususnya lingkungan sungai”, tuturnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Wonosobo, Agus Subagiyo, mengucapkan terima kasih kepada seluruh stakeholder, khususnya kepada komunitas pecinta sungai, Pokmaswas, Karang Taruna dan Desa Wonokerto, untuk komitmen dan langkah nyatanya, dalam pelaksanaan peran masing-masing, untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup, khususnya Perairan Umum Darat. Selain itu Agus juga mengajak kepada seluruh masyarakat untuk cinta menjaga kelestarian lingkungan sekitar. "Saya mengajak seluruh masyarakat untuk cinta lingkungan, sayangi sungai, jaga kelestarian sungai dan semua yang ada didalamnya, demi anak cucu dimasa mendatang", pungkasnya.

Operasi Cukai Pertama Di Masa Pandemi Covid-19, Petugas Temukan Cerutu Ilegal

Operasi rokok ilegal kembali digelar oleh tim gabungan penegak perda Pemkab Wonosobo, Senin (6/7/2020). Menyisir puluhan pedagang di wilayah Leksono dan Sukoharjo, tim yang terdiri dari personel Satpol PP, unsur TNI-Polri didukung Dinas Kominfo tersebut berhasil menyita 1 bungkus rokok jenis cerutu yang dijual tanpa pita cukai resmi. Penyitaan dilakukan, karena menurut Kepala Seksi Bimbingan dan Penyuluhan, Warjono peredaran rokok tanpa cukai menyalahi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 Tentang Cukai. “Dari hasil razia pertama di masa pandemic Covid-19 hari ini, kami melakukan penyitaan barang bukti berupa satu bungkus cerutu bermerk Senator salah satu toko di wilayah Leksono,” terang Warjono ketika ditemui seusai operasi.

Kepada pedagang yang diketahui menjual rokok polos tanpa cukai  itu, Warjono mengaku telah memberikan teguran dan memintanya menandatangani pernyataan agar tidak lagi menerima tawaran untuk menjual rokok serupa di masa-masa mendatang. Teguran yang sama, menurut Warjono juga disampaikan kepada pedagang lainnya di sepanjang rute operasi “Temuan ini membuktikan bahwa para pengedar rokok polos masih beraksi di wilayah, meski ruang gerak pemasaran semakin terbatas,” jelasnya. Kebanyakan pedagang, menurut Warjono sudah menyadari resiko menjual rokok polos justru dapat mendatangkan kerugian, namun masih ada sebagian kecil yang ternyata belum paham tentang aturan dalam UU Nomor 11 Tahun 1995.

Nggih Pak, kulo nggih mboten paham niku rokok polos”, jawab pedagang dengan jujur, ketika ditanya oleh petugas kenapa masih nekat menjual rokok polos. Demi menghindari temuan serupa di masa mendatang, Warjono meminta agar petugas menerangkan ciri-ciri rokok maupun cerutu hingga tembakau kemasan yang boleh diperjual belikan oleh para pedagang. Ia juga menegaskan pelaksanaan operasi cukai masih akan berjalan selama dua hari ke sejumlah wilayah lainnya yang ditengarai masih menjadi sasaran penjualan rokok tanpa cukai. Selain sebagai upaya menekan potensi penyebaran rokok ilegal, dalam kesempatan tersebut tim gabungan juga memanfaatkan kesempatan untuk kembali mengingatkan warga akan bahaya virus Corona, sehingga mereka tetap diminta untuk menerapkan protokol kesehatan secara ketat. “Pedagang maupun pembeli yang kami temui tidak mengenakan masker maupun belum memasang fasilitas cuci tangan di depan toko mereka, kami tegur dan kami ingatkan agar tetap menerapkan standar protokol kesehatan demi menghindarkan diri dari paparan wabah Covid-19,” pungkas Warjono.

Santri Lirboyo Asal Wonosobo "Disangoni" 1200 Masker

Sebanyak 120 santri asal Wonosobo diberangkatkan, untuk kembali menimba ilmu di Ponpes Lirboyo Jawa Timur, setelah kurang lebih tiga bulan sebelumnya belajar dirumah masing-masing karena adanya pandemi Covid-19. Minggu (5/7) pagi, upacara pelepasan dipimpin langsung Bupati Wonosobo, Eko Purnomo di terminal wisata Mendolo. Bupati meminta para santri tetap jaga nama baik Kabupaten Wonosobo dengan mentaati peraturan yang telah ditetapkan di PonPes sembari berdoa agar mereka memperoleh ilmu yang bermanfaat di dunia dan sebagai bekal akhirat, berguna bagi agama dan bangsa. Dan nantinya ilmu yang sudah diperoleh dapat diterapkan ditengah-tengah masyarakat.

"Jaga nama baik Kabupaten Wonosobo dengan mentaati peraturan yang telah ditetapkan di PonPes semoga memperoleh ilmu yang bermanfaat di dunia sebagai bekal akhirat, berguna bagi agama dan bangsa, sehingga ilmu yang sudah diperoleh nantinya dapat diterapkan ditengah-tengah masyarakat", harapnya.

Bupati menyampaikan selamat jalan kepada para santri, sembari berharap agar mereka tetap sehat dan prima, baik dalam perjalanan maupun sampai di PonPes nantinya. Selain itu para santri diminta bersungguh-sungguh dalam menimba ilmu, serta menjalani semua proses pembelajaran dengan baik. "Kami ucapkan selamat jalan, semoga tetap sehat, prima dalam perjalanan dan juga di Pondok nanti, bersungguhlah dalam menimba ilmu dan jalani rangkaian belajar dengan sebaik-baiknya", pesanya.

Eko Purnomo menambahkan, dalam proses pembelajaran di PonPes para santri agar selalu menjaga kesehatan dan selalu menerapkan protokol kesehatan. “Jangan lupa selalu jaga kesehatan, terapkan protokol kesehatan dalam keseharian, seperti menggunakan masker, cuci tangan pakai sabun di air yang mengalir, istirahat yang cukup,” pungkasnya.

Sementara itu, Kabag Kesra Setda, Isnanto, menyampaikan bahwa para santri yang diberangkatkan telah memenuhi protokol kesehatan dan himbauan Pemerintah seperti penggunaan masker, membawa surat keterangan sudah melaksanakan karantina mandiri yang ditandatangani pemerintah Desa dan surat keterangan sehat dari Dinas Kesehatan/Puskesmas di Wonosobo. Selain itu, dalam upaya pencegahan dan perlindungan diri dari penyebaran virus corona, para santri juga di bekali 1200 masker, yang diberikan masing-masing 10 buah.

Fairuz Mengajak Masyarakat Tingkatkan Kepedulian Terhadap Sesama

"Mari kita tingkatkan semangat kepedulian kita kepada sesama, tidak hanya dengan kegiatan ketahanan pangan saja. Namun, masih banyak lagi kegiatan lain yang bisa kita laksanakan dalam progam Jogo Tonggo Wonosobo Biso. Sehingga kita semua akan mampu melalui masa-masa berat pandemi Covid-19 ini, dengan tetap sehat, selamat dan saling mendukung satu sama lain". Demikian disampaikan Ketua TP. PKK Kabupaten Wonosobo, Fairuz Eko Purnomo saat melakukan pantauan pasar gratis di Kp. Mulyosari Kelurahan Jaraksari, Jumat (3/7/2020).

Fairuz menyampaikan apresiasi yang tinggi, kepada seluruh warga masyarakat kelurahan jaraksari, beserta seluruh unsur yang terlibat dalam pelaksanaan pasar gratis tersebut. Sembari berharap, semangat kepedulian dan saling membantu, yang diwujudkan salah satunya melalui kegiatan pasar gratis Jogo Tonggo ini, bisa menjadi pemantik terlaksananya ragam kegiatan positif lainnya, untuk menciptakan ketahanan pangan di masa pandemi ini..

"Saya sangat bersyukur, karena di tengah pandemi ini, masyarakat Wonosobo masih mempunyai rasa empati terhadap sesama. Saya berharap, progam ini akan terus berjalan, tidak hanya di tempat ini, namun di seluruh wilayah di Wonosobo," ucapnya.

Fairuz meminta masyarakat untuk berpartisipasi secara aktif, dan lebih peduli dalam melihat kondisi di sekitar lingkungan, jika ada warga yang mengalami kesulitan, segera lapor ke RT/RW serta perangkat desa/kelurahan setempat, agar semua dapat tertangani dengan cepat, baik dan tepat sasaran. Selain itu masyarakat diminta agar memperkuat komitmen bersama, meningkatkan kepedulian, kerjasama, dan kewaspadaan, terutama terhadap lingkungan sekitar, sehingga apa yang telah diupayakan pemerintah dan masyarakat dalam upaya pencegahan dan penanganan penyebaran Covid-19 di Wonosobo, sejauh ini, tidak sia-sia. "Namun saya juga prihatin, sepertinya kedisiplinan beberapa warga masyarakat sudah mulai kendor karena Wonosobo dalam beberapa hari ini nol penambahan kasus Covid-19. Perjuangan kita belum berakhir, penyebaran Covid-19 belum benar-benar berhenti," kata Fairuz.

"Jadi, saya mohon, demi kesehatan dan keselamatan diri, keluarga dan saudara-saudara di sekitar kita, mulai dari diri sendiri, dan dengan senantiasa mengingatkan satu sama lain, tolong tetap patuh pada himbauan pemerintah untuk tetap menjalankan protokol kesehatan dalam berkegiatan sehari-hari, demi mempertahankan pencapaian nol penambahan kasus di Wonosobo, juga untuk mencegah penyebaran dari Covid-19 agar tidak lebih meluas lagi", tegasnya.

Tidak lupa Fairuz mengingatkan kepada seluruh masyarakat, untuk benar-benar menghindari keramaian sampai pandemi ini benar-benar terkendali. "Mari saling mengingatkan, untuk selalu mengenakan masker, tetap menjaga jarak, menerapkan pola hidup bersih dan sehat, serta selalu menjaga kebersihan tangan, dengan sering mencuci tangan memakai sabun pada air yang mengalir, saat memulai maupun mengakhiri aktivitas, dan sebisa mungkin kurangi aktivitas di luar rumah, kecuali terdapat kepentingan yang sangat mendesak," tutupnya.

Pondok Asuh Lansia Baniy Maksum Terima Bantuan

Ditengah pandemi Covid-19 ini, lansia merupakan kelompok yang rentan, selain ibu hamil dan orang dengan penyakit penyerta. Oleh karena itu lansia harus lebih diperhatikan agar mereka dapat terhindar dari penularan Covid-19. Demikian disampaikan Ketua Lembaga Koordinasi Kesejahteraan Sosial (LKKS) Kabupaten Wonosobo, Fairuz Eko Purnomo, saat menyampaikan bantuan kepada Pondok Asuh Lansia Baniy Maksum, bertempat di Pondok Asuh Lansia Baniy Maksum, Cangkring, Kelurahan Wadaslintang, Kamis (2/7/2020).

Pada kesempatan itu Fairuz Eko Purnomo juga menyampaikan ucapan terimakasih dan apresiasi mendalam kepada  Kementerian Sosial Republik Indonesia, Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah, Dinas Sosial PMD Kabupaten Wonosobo, dan segenap pihak terkait, yang selama ini telah memberikan dukungan dan sokongan pada LKKS Kabupaten Wonosobo. Mudah-mudahan segala bantuan dan dukungan yang diberikan selama ini, dapat memberikan motivasi, dorongan, dan manfaat, utamanya di masa pandemi Covid-19 ini.

“Saya juga mengucapkan terimakasih yang tak terhingga, kepada segenap jajaran Pondok Asuh Lansia Baniy Maksum, yang selama ini telah ikhlas dan berjiwa besar, dalam mendedikasikan diri untuk membantu dan merawat para lansia. Semoga segala kebaikan saudara sekalian, akan mendapat balasan kebaikan pula dari Allah SWT. Amin ya rabbal 'alamin,” ungkap Fairuz.

Fairuz juga mengajak kepada para lansia, untuk bersama-sama berjuang, dengan menjaga kedisiplinan, agar pandemi ini dapat terkendali dan sesegera mungkin dapat teratasi, melalui kepatuhan dalam melaksanakan himbauan pemerintah untuk menjalankan protokol kesehatan, serta kesabaran dalam beradaptasi pada kondisi ini, demi mencegah penyebaran dari Covid-19 agar tidak lebih meluas lagi.

“Kesehatan dan keselamatan diri adalah yang utama harus kita jaga, sehingga kita masih bisa berusaha, membangkitkan kembali perekonomian dan perputaran roda kehidupan sosial kita seperti sediakala, tentunya dengan beberapa penyesuaian kebiasaan di dalamnya,” pungkas Fairuz.

Sementara sekretaris Dinas Sosial dan PMD Kabupaten Wonosobo, Retno Eko SN, menyampaikan bahwa bantuan yang diberikan kepada Pondok Asuh Lansia Baniy Maksum adalah 100 paket senilai @300 ribu rupiah, berupa beras 10 Kg, 4 bungkus mie instan, 1 liter jus, 1 kaleng roti, 1 goodi bag, yang berasal dari Kementerian Sosial, serta APD yang berasal dari Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah. “Semoga bantuan yang diberikan oleh pemerintah ini, bisa bermanfaat bagi para lansia di Pondok Asuh Lansia Baniy Maksum di tengah pandemi Covid-19. Meski tidak seberapa tetapi ini wujud kepedulian pemerintah kepada para lansia,” ungkap Retno Eko.

Pada kesempatan itu Ketua pengurus Pondok Asuh Lansia Baniy Maksum, Watmin, menyampaikan ucapan terimakasih atas bantuan yang diberikan kepada pondok asuh lansia ini. Dimana Pondok Asuh Lansia Baniy Maksum saat ini berusia 7 tahun, dengan anggota atau lansia yang diasuh sebanyak 130 lansia dari kecamatan Wadaslintang dan sekitarnya dan 5 lansia yang menetap di Pondok Asuh Lansia Baniy Maksum. Kegiatan yang dilaksanakan di Pondok Asuh Lansia Baniy Maksum berupa kegiatan kesehatan seperti olahraga dan cek kesehatan, kegiatan keagamaan, kegiatan ketrampilan menjahit serta kegiatan kewirausahaan.

Ketua MUI Wonosobo Minta Sekda Untuk Memilih ASN Terbaik Dalam Setiap Pengisian Jabatan

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Wonosobo, Dr Muchothob Hamzah, M.M., dalam ceramahnya menyampaikan banyak hal tentang kehidupan manusia. Terkait ibadah, pekerjaan, kewajiban dan hak, cita-cita atau visi serta hubungan antara manusia dengan Allah SWT maupun dengan sesama manusia yang lain. Hal ini disampaikanya saat mengisi tausyiah Sarasehan Ulama' Umaro' dan Pembukaan Amal Infaq Yakaumi periode 223, di Pendopo Bupati, Rabu (1/7/2020) malam. Yang dilaksanakan dengan penerapan protokol kesehatan.

Dikatakan Muchothob Hamzah yang lebih akrab disapa Abah Khotob, ASN harus mempunya visi yang jauh dalam bekerja. Bukan hanya visi sebatas lama jabatan saja. Namun lebih jauh lagi hingga memikirkan sesudah mati, saat setelah meninggalkan kehidupan dunia ini. Karena disana nantinya pertanggungjawaban tentang apa yang telah dilakukan di dunia, yang pasti akan dipertanyakan. "Orang yang cerdas menurut Rasulullah S.A.W, adalah orang yang berfikir jauh, memiliki visi jauh kedepan hingga setelah mati", katanya.

Di setiap pekerjaan, dalam bekerja harus di landasi ibadah, karena dengan landasan tersebut semua akan terasa ringan dan pasti ada barokah. Dengan kata lain, nilai-nilai ibadah harus melekat pada setiap pekerjaan, pada setiap langkah, dan tindakan. Dan jikalau menjadi sorang pimpinan harus melekat disetiap kebijakan yang diambil.

Selain itu, yang terpenting menurutnya adalah harus bisa membedakan antara kewajiban dan hak, dimana saat ini yang terjadi kebanyakan mendahulukan hak lebih dulu daripada kewajiban. "Islam tidak mengajarkan hal itu, tapi lakukan kewajiban, tunaikan yang baik dahulu baru hak nanti ada kemudian. Jabatan akan datang jika kewajiban telah ditunaikan dengan baik, karena dia sadar, setelah kewajiban ditunaikan ada pertanggungjawaban, dan bukan hanya kepada pimpinan saja namun kepada Alloh SWT," ungkapnya.

"Seorang ASN yang mendahulukan kewajiban tidak akan punya ambisi memaksakan diri dalam jabatan, dia bisa menempatkan atau memposisikan diri pantasnya dimana. Jika hanya sekedar keinginan tidak akan menjamin. Karena sudah ada kapasitas sendiri-sendiri", tegasnya.

Abah berpesan, "Oleh karena itu, kepada Pak Sekda, pilihlah orang-orang terbaik dalam menduduki jabatan, karena pemimpin itu membawa pengaruh ke bawah atau mrembes, kalau pemimpinnya baik insya Allah anak buahnya juga baik", pesanya.

Subscribe to this RSS feed