LRA 2017

A+ A A-

Puluhan Perajin Diajak Intip Peluang Di Tengah Pandemi

Tak kurang dari 60 pelaku usaha kerajinan se-Kabupaten Wonosobo diajak mengikuti pelatihan sehari bertema Tetap Semangat , Kreatif dan Produktif di Tengah Pandemi COVID-19, yang digelar Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda), di Aula Utama Balai Latihan Kerja Wonosobo, Senin (20/7/2020). Dari pelatihan tersebut, para pelaku usaha bidang kerajinan diharapkan untuk tetap menjaga optimisme, semangat serta kreatifitas mereka agar tetap bertahan meski dikepung kesulitan akibat panjangnya masa pandemi wabah virus corona. “Tujuan utama nya agar para pelaku usaha di sektor kerajinan di Kabupaten Wonosobo ini bisa menambah wawasan mereka, karena sebenarnya di tengah kondisi prihatin seperti sekarang ini, masih terbuka sejumlah peluang yang dapat dimanfaatkan untuk meraih keuntungan,” tutur Kepala Bagian Perekonomian Setda, Siti Nuryanah saat ditemui seusai membuka pelatihan.

Menurut perempuan yang akrab dengan sapaan Bu Nur itu, lamanya masa pandemi COVID-19 yang melanda seluruh dunia saat ini mengakibatkan pelemahan di sektor industri baik skala besar maupun kecil, termasuk di lingkup UKM kerajinan. Mengingat kondisi itulah, dekranasda Kabupaten Wonosobo disebut Bu Nur berupaya untuk menjaga optimisme para pelaku usaha agar mereka tak mengendurkan semangat untuk tetap berkreasi dan produktif. “Kami mengajak serta dua pengusaha muda Wonosobo, untuk menjadi narasumber dan memberikan wawasan dan pengetahuan-pengetahuan baru, khususnya untuk menangkap peluang dari sistem bisnis modern yang berbasis online,” lanjutnya. Pemanfaatan media online untuk pemasaran, dinilai Bu Nur akan mampu menjadi solusi untuk membantu pemasaran sebagian besar perajin yang saat ini masih mengandalkan sistem konvensional. Selain itu, dengan materi-materi actual yang disampaikan para narasumber, para peserta pelatihan diharapkan Bu Nur akan mampu menjaga kualitas dan kuantitas produk-produk mereka sehingga nantinya akan bisa menembus pasar yang lebih luas.

Harapan tersebut sejalan dengan paparan Ketua DPC HIPMI Kabupaten Wonosobo, Chairul Anwar yang dalam kesempatan tersebut menjadi salah satu narasumber pelatihan. Di tengah paparan materinya, pria yang akrab dengan sapaan Awang itu menyebut sejumlah nama tokoh dunia yang populer dari hasil bisnis mereka secara online. Jack Ma, Mark Zuckerberg, Nadiem Makarim, Ahmad Zaky, hingga Diajeng Lestari. “Tokoh-tokoh dunia seperti jack Ma, Mark Zuckerberg, hingga Nadiem Makarim dan Ahmad Zaky, saat ini memiliki lini bisnis yang valuasi atau nilai nya sudah puluhan hingga ribuan triliun rupiah,” terang Awang. Sebagian besar dari tokoh-tokoh itu, disebutnya memulai usaha dari nol, bahkan mengalami jatuh bangun dalam meniti sukses mereka. Para pelaku usaha di Wonosobo pun, diyakini Awang mampu menembus industri dunia melalui pemanfaatan teknologi berbasis online, asalkan ada kesungguhan, keseriusan dan fokus pada kreativitas yang dimiliki. “Jangan menyerah karena kita harus semua meyakini bahwa setiap krisis, menghasilkan peluang yang bisa kita manfaatkan,” pungkas Awang.

Paguyuban Sopir Swadaya Perbaiki Jalan Kabupaten

Puluhan pengemudi angkutan umum yang tergabung dalam Persatuan Pengemudi Angkutan Umum Wonokerto – Tlogo Plintaran, Kecamatan Sukoharjo berinisiatif untuk memperbaiki kerusakan parah pada sebagian ruas jalan Kabupaten, Minggu (19/7/2020). Ruas jalan penghubung antar desa yang merupakan jalur angkutan mereka dalam upaya memenuhi kewajiban mencari nafkah tersebut, diakui para sopir sudah tidak layak untuk dilalui kendaraan karena diameter dan kedalaman lubang berpotensi membahayakan perjalanan. Bawon, salah satu pengemudi angkutan umum jalur tersebut, ketika ditemui di Wonokerto, Senin (20/7) membenarkan aksi solidaritas para sopir merupakan bentuk keprihatinan mereka pada kondisi jalan yang tak kunjung mendapatkan penanganan dari pihak berwenang.

“Perbaikan ini kami kerjakan secara mandiri, termasuk dari pembelian material melalui iuran mandiri para sopir angkutan, hingga pengerjaan di lapangan dengan dibantu sejumlah warga yang pada kesehariannya juga menggunakan jalan tersebut,” tutur Bawon. Ia juga menambahkan aksi mereka bukan merupakan yang pertama kali, karena pada beberapa waktu sebelumnya pernah dilakukan. Perbaikan secara mandiri, disebut Bawon pernah dilakukan pada Bulan September 2018, atau hampir dua tahun silam, dengan dana terkumpul berhasil menambal sulam ruas yang sama sepanjang sekitar 350 meter. “Untuk perbaikan kali ini, kami coba memfokuskan pada ruas-ruas paling parah, terutama yang berada pada posisi tanjakan, sedangkan untuk ruas jalan mendatar kami menunggu hasil iuran lagi pada waktu-waktu mendatang,” terangnya. Karena keterbatasan dana pula, Bawon mengaku ia dan teman-temannya dengan dibantu sejumlah warga setempat hanya bisa menggunakan material berupa cor beton / rigid dan bukan aspal keras. Material tersebut digunakan untuk menambal lubang-lubang dengan kedalaman 5 – 10 cm, aspal yang mengelupas serta ruas ruas yang bergelombang dan berpotensi merusak kaki-kaki kendaraan hingga bisa membahayakan pengguna jalan.

Arif, salah  satu warga desa Kupangan yang sehari-hari nya juga beraktivitas melalui ruas jalan tersebut menambahkan, upaya perbaikan melalui penggalangan dana mandiri pengemudi angkutan dan donasi warga itu sangat membantu mobilitas masyarakat. “Kami mendukung dan turut bergotong royong memperbaiki jalan yang rusak karena jika dibiarkan terus bakal makin parah, bahkan berpotensi memicu kecelakaan dan membahayakan jiwa,” bebernya.  Karena itulah, ia maupun warga dan para pengemudi angkutan yang sehari-hari melintasi ruas jalan Wonokerto – Tlogo Plintaran berharap agar pemerintah Kabupaten melalui Dinas / Instansi terkait secepatnya mengupayakan perbaikan demi menghindari kejadian-kejadian yang tidak diharapkan.

Kelamaan Pandemi, Banyak Perades Lupa Tupoksi PPID

Lamanya masa pandemi Covid-19 yang telah berlangsung 4 bulan terakhir membuat sebagian perangkat desa di Kecamatan Watumalang tak lagi mengingat perihal pentingnya peran Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID). Bahkan banyak diantara perangkat desa seperti Kades dan  Sekdes yang ketika ditanya kepanjangan dari PPID, tidak bisa menjawab dengan benar. Kepala Seksi Pelayanan Informasi Publik Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Dinas Kominfo, Priyo Cahyono menyebut pihaknya memaklumi kondisi tersebut, mengingat selama masa pandemic Covid-19, pekerjaan para perangkat desa memang bertambah berat. “Karena itulah kami berupaya untuk menyegarkan kembali ingatan para perangkat desa, agar tugas-tugas untuk memenuhi amanah undang-undang Nomor 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP) tetap bisa dituntaskan,” terang Priyo ketika ditemui usai mengisi materi Pembinaan dan Pengembangan Jaringan Komunikasi Informasi Masyarakat, di aula Kecamatan Watumalang, Kamis (16/7/2020).

Sejumlah materi yang disampaikan dalam pembinaan tersebut, menurut Priyo meliputi tata cara melayani permohonan dan prosedur pelayanan informasi, jenis-jenis informasi publik berkala, informasi serta merta dan setiap saat, hingga informasi yang dikecualikan. Para perangkat desa, disebut Priyo mesti memahami bahwa di era media sosial mendominasi kehidupan publik seperti saat ini, potensi munculnya permohonan beragam jenis informasi oleh warga sangat terbuka. “Seperti contoh belum lama ini di salah satu desa di wilayah Mojotengah bahkan sampai memunculkan sengketa informasi dan masuk ke sidang ajudikasi di Komisi Informasi Provinsi Jawa Tengah,” ungkap Priyo. Dengan kesiapan para perangkat desa dalam menyajikan berbagai jenis informasi, baik melalui media luar ruangan maupun website dan media sosial, potensi terjadinya hal serupa akan bisa ditekan.

Selain menerima pembinaan terkait tugas pokok dan fungsi PPID, dalam kesempatan tersebut tak kurang dari 40 perangkat dari seluruh Desa se-Watumalang juga mendapat arahan terkait Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) dan Forum Komunikasi Media Tradisional (FK Metra), oleh Kepala Seksi Pemberdayaan Komunikasi Sosial, Bidang IKP Diskominfo, Ganeswara Wibawa. Kepada para pemangku kepentingan desa, Ganeswara mengingatkan kembali pentingnya KIM, utamanya dalam membantu pemerintah menyampaikan sosialisasi terkait bahaya Covid-19. “Melalui kelompok informasi masyarakat, edukasi publik terkait bagaimana menghindarkan diri dari potensi tertular virus korona contohnya, bisa dilakukan sehingga warga benar-benar paham tentang protokol kesehatan yang harus mereka jalankan,” pungkasnya.

Puspaga Disosialisasikan Secara Virtual

Tim Penggerak PKK Kabupaten Wonosobo menggelar sosialisasi layanan Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) bagi tim penggerak PKK Kecamatan se-Kabupaten Wonosobo secara virtual, Rabu (15/7/2020). Digelar di ruang multimedia Dinas Kominfo Kabupaten Wonosobo, sosialisasi puspaga tersebut menurut Wakil Ketua TP PKK Kabupaten, Ani Agus Subagiyo menjadi awal dari upaya pihaknya mengajak kader-kader di wilayah untuk memahami alur kerja dari pusat konseling orangtua atau keluarga yang kesulitan mendidik anak.

“Puspaga ini ada untuk menjadikan keluarga berkualitas melalui konseling, pembelajaran dan sebagainya,” tutur Ani ketika ditemui seusai video conference dengan tim penggerak PKK se-Kabupaten. Menurut Ani, dengan tersedianya layanan PUSPAGA diharapkan mampu mengoptimalkan fungsi keluarga, dimana perlindungan perempuan dan anak menjadi acuan penting dalam menyelenggarakan keluarga yang sejahtera.

Kepala Bidang PPPA Dinas PPKBPPPA Kabupaten Wonosobo, Erna Yuniawati yang turut mendampingi Ani, menambahkan perihal ikhtiar untuk bisa mencapai keluarga sejahtera melalui Puspaga, ditopang oleh 8 fungsi. “Ada delapan fungsi yang meliputi fungsi Agama, Sosial Budaya, Pendidikan, Cinta Kasih, Reproduksi, Melindungi, Pembinaan Lingkungan, dan Ekonomi,” bebernya. Ia juga mengaku menargetkan dari gelar sosialiasi secara virtual tersebut, para kader TP PKK di seluruh Wonosobo mampu berperan dalam meningkatkan kulaitas kehidupan menuju keluarga sejahtera dan menyiapkan ketahanan keluarga serta pengasuhan anak. Di masa pandemic Covid-19, Erna mengakui peran TP PKK di setiap wilayah menjadi cukup krusial mengingat setiap keluarga dituntut mampu mempertahankan kualitas kehidupan dan menghidarkan diri dari paparan virus korona.

Hasil Evaluasi OPB Tahap II, Jumlah Kendaraan Dihalau Menurun

Pelaksanaan Operasi Pembatasan Bersyarat (OPB) tahap kedua yang digelar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Coovid-19 Kabupaten Wonosobo, berakhir pada Selasa (14/7/2020). Selama kurun waktu 2 pekan terakhir, tak kurang dari 201.771 kendaraan terpantau melintas di 3 posko, yaitu Sawangan, Mendolo dan Sapuran. Kepala Dinas Perumahan Permukiman dan Perhubungan (Perkimhub), Bagyo Sarastono melalui rilis tertulis hasil evaluasi OPB Tahap II, Rabu (15/7/2020) menyebut rata-rata harian kendaraan yang melintasi ketiga posko tersebut selama 14 hari pelaksanaan OPB mencapai 13.000 sampai 15.000 unit. “Terdiri dari kendaraan roda 2, roda 3, dan roda 4 atau lebih yang kita catat melintas dalam 2 minggu pelaksanaan OPB,” bebernya.

Dari hasil evaluasi OPB II itu pula, Bagyo menyebut pihaknya mencatat ada penurunan jumlah kendaraan dihalau ataupun putar balik lantaran tidak memenuhi persyaratan untuk melintas dengan berbagai sebab. “Apabila pada OPB tahap I lalu kami mencatat ada lebih dari 4 Ribu kendaraan yang wajib putar balik, di OPB Kedua ini hanya 792 kendaraan yang dihalau oleh petugas, dan sebagian besar karena tidak dilengkapi surat izin keluar masuk (SIKM) atau pengendara maupun penumpang diduga dalam kondisi tidak sehat setelah menjalani pemeriksaan di posko,” ungkap Bagyo.

Berbeda dengan jumlah kendaraan dihalau yang turun hampir 80 %, jumlah kendaran yang terpaksa diberikan surat peringatan disebut Bagyo justru menunjukkan penurunan. Pada OPB Tahap Pertama lalu, jumlah surat peringatan yang dikeluarkan petugas disebut Bagyo mencapai 2.747, namun pada OPB tahap Kedua ini, naik menjadi 3.077 unit. Peningkatan jumlah, menurut Bagyo juga terjadi pada jumlah warga yang melintas tanpa mengenakan masker pelindung wajah, yaitu dari 6.326 orang pada OPB Pertama, menjadi 7.329 pelaku perjalanan pada OPB kedua. Hal ini, menurut Bagyo menjadi catatan khusus, dan menurutnya selayaknya mendapat tindak lanjut demi menggugah kembali kesadaran warga masyarakat untuk mewaspadai penyebaran Covid-19. “Ada kemungkinan, masa transisi menuju adaptasi kebiasaan baru, atau di masyarakat lebih dikenal dengan istilah new normal ini direspons publik dengan mengendurkan kewaspadaan mereka,” lanjutnya.

Karena itulah, dalam beberapa kesempatan meninjau posko, Bagyo mengaku berupaya mengingatkan pelaku perjalanan yang terjaring lantaran tak bermasker dengan sejumlah sanksi, seperti Push Up, menyanyikan lagu kebangsaan, hingga meminta mereka untuk menghafal Pancasila. “Tujuannya lebih kepada upaya mengedukasi agar publik tak mengabaikan protokol kesehatan, serta agar mereka turut berpartisipasi aktif dalam upaya memutus mata rantai penyebaran virus korona,” pungkasnya.

Operasi Masker Merambah Wilayah, Ratusan Orang Terjaring

Tak hanya di lingkup Kabupaten, upaya pencegahan penyebaran Covid-19 melalui operasi masker juga dilakukan gugus tugas pencegahan korona di Kecamatan. Tercatat, Gugus Tugas Kecamatan Kalikajar dan Kecamatan Kertek menggelar kegiatan tersebut pada hari yang sama, Selasa (14/7/2020). Camat Kalikajar, Bambang Triyono ketika ditemui di sela gelar operasi masker bersama tim gabungan dari Koramil, Polres, Puskesmas Kalikajar 1 dan 2, serta sejumlah relawan dari RPB Jogonegoro menyebut ada ratusan pengguna jalan yang melintas di Jalan utama Sapuran - Kertek dihentikan lantaran mereka tak mengenakan masker pelindung.

“Dari giat sepanjangan sekitar 4 jam, tim gabungan menghentikan tak kurang dari 119 orang yang diketahui tidak mengenakan masker, sehingga kami minta untuk menerima pengarahan dari tim surveillance, serta dari teman - teman aparat juga memberikan sanksi berupa wajib mengucapkan Pancasila secara urut, atau menyanyikan lagu-lagu kebangsaan dan hormat bendera merah putih,” terang Bambang. Seluruh pengguna jalan yang melintas, baik dengan kendaraan roda dua, roda empat, angkutan umum hingga truk, menurut Bambang menjadi sasaran operasi, demi meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya penularan virus korona. Pada tahap pertama kegiatan itu, warga yang terjaring kemudian diberikan masker secara cuma-cuma, namun kedepan ia mengaku akan menerapkan wajib beli bagi warga yang tidak membawa masker.

Diakui Bambang, dari sebagian besar warga yang terjaring diperoleh keterangan bahwa mereka mengaku lupa membawa masker karena merasa sudah aman dari Covid-19. Hal itu disebutnya menjadi bukti bahwa kewaspadaan publik saat ini mulai melemah dan cenderung abai terhadap potensi penularan virus yang telah menyebabkan lebih dari 3.600 orang di seluruh Indonesia meninggal dunia itu. “Mengingat masih diperlukannya kewaspadaan masyarakat akan bahaya korona ini, kami mempertimbangkan untuk menggelar kegiatan serupa setidaknya dua kali dalam seminggu,” tegasnya.

Selain Gugus Tugas Kecamatan Kalikajar, kegiatan operasi masker juga digelar oleh Gugus Tugas Kecamatan Kertek. Berbeda dengan di Kalikajar yang menyasar para pengguna jalan, Gugus Tugas Kertek memilih untuk menggelar operasi masker bagi warga pasar tradisional. Komandan Koramil 06/Kertek, Kapten Punidi menyebut banyak warga pasar yang tidak mengenakan masker saat beraktifitas di keramaian, baik dari pembeli maupun pedagang sendiri. “Mereka beranggapan bahwa saat ini sudah aman dari Covid-19, padahal sebenarnya justru saat ini kita masih dalam masa persiapan menuju adaptasi kebiasaan baru, atau new normal,” terangnya. Mengingat masih banyak warga yang kurang menyadari pentingnya bermasker itulah, Kapten Punidi mengaku bahkan telah meminta kepada para Bintara Pembina Desa (Babinsa) untuk terjun secara intensif di masyarakat demi menyadarkan masih pentingnya kewaspadaan terhadap bahaya korona. “Kami optimis dengan adanya kesadaran warga untuk mentaati protokol kesehatan, salah satunya disiplin mengenakan masker, maka kasus Covid-19 di Kabupaten Wonosobo akan bisa dihentikan dan diputus mata rantai penularannya,” tandasnya.

Pembukaan Kembali Telaga Warna Diharapkan Gairahkan Obwis Lain Di Wonosobo

Setelah lebih dari 4 bulan terpaksa non aktif lantaran ditutup akibat Pandemi Covid-19, Objek wisata alam Telaga Warna dan Telaga Pengilon, di Dieng, Kejajar Kabupaten Wonosobo akhirnya diperbolehkan buka kembali. Kepastian terkait pembukaan kembali salah satu Obwis andalan di kawasan Dataran tinggi Dieng itu diperoleh setelah Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Republik Indonesia, Siti Nurbaya meninjau secara langsung pada Minggu (12/7/2020). Taman Wisata Alam (TWA) Telaga Warna dan Telaga Pengilon, disebut Siti Nurbaya menjadi salah satu dari 29 TWA di bawah pengelolaan BKSDA Provinsi Jawa Tengah yang mendapat prioritas untuk dibuka lebih dulu demi membantu pemulihan ekonomi warga di sekitarnya.

Selain itu, dari pembukaan Objek Wisata Alam Telaga Pengilon dan Telaga Warna tersebut Siti juga berharap bisa menjadi stimulan bagi obwis lainnya, sehingga masyarakat akan kembali produktif di masa pandemic Covid-19. Namun demikian, dibukanya kembali objek wisata alam Telaga Warna dan Telaga Pengilon bagi para pelancong diminta Siti untuk dapat diimbangi dengan kesadaran pihak pengelola untuk menerapkan protokol kesehatan ketat, demi menghindari penyebaran virus korona. "Saya perintahkan Dirjen KSDAE agar melakukan pengecekan kembali secara keseluruhan, diantaranya redesain infrastrukturnya agar tidak terlalu banyak bangunan fisiknya, dan lebih menonjolkan lanskapnya," imbuh Siti. Sebuah taman wisata alam, menurutnya harus lebih mengedepankan unsur natural dan keaslian sebagai wahana rekreasi para pengunjungnya.

Menanggapi pembukaan kembali TWA Telaga Warna-Pengilon, Sekretaris Daerah Kabupaten Wonosobo One Andang Wardoyo yang juga turut mendampingi kunjungan kerja Menteri LHK mengaku sangat apresiatif. Andang membenarkan tujuan pembukaan objek wisata taman alam Telaga Warna dan pengilon akan memberikan dukungan atau motivasi kepada objek wisata lain untuk kembali bergairah di masa pandemic Covid-19, yang beranjak ke arah transisi menuju new normal. Namun, pihaknya juga mengaku telah meminta dukungan Kementerian LHK untuk masalah pengelolaan sampah di kawasan Dieng. “Kami mendukung keputusan Kementerian LHK yang memberikan kelonggaran untuk pembukaan TWA Telaga Warna, namun mengingat selama ini pengelolaan sampah-nya belum maksimal sehingga berpotensi merusak alam dan citra kawasan Dieng yang eksotik, saya juga meminta agar ada dukungan konkret,” tandasnya. Persoalan sampah tersebut, ditegaskan Sekda perlu terus diingatkan, agar kedepan harus upaya yang lebih jelas dan terintegrasi, agar objek wisata bersih. “Karena hampir semua objek wisata di Kabupaten Wonosobo ini memang berbasis alam, terutama hutan, Gunung dan sungai,” ungkap Andang.

Tanggapan serupa juga disampaikan Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Wiratno. Menurutnya, langkah untuk membuka kembali kawasan TWA Telaga Warna-Pengilon sudah tepat, mengingat keberadaan objek wisata itu terbukti mampu menggerakkan ekonomi warga lokal di sekitar Dataran tinggi Dieng. Dalam satu tahun, di masa normal sebelum pandemic Covid-19, Wiratno menyebut TWA Telaga Warna-Pengilon dikunjungi tak kurang dari 425 RIbu orang dan menghasilkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) hingga mencapai 3 Miliar Rupiah.

Kasus Ke-84 Hasil Kontak Erat Luar Daerah

Setelah hampir 3 pekan nihil Covid-19 positif, sejak dinyatakannya kesembuhan pasien ke-83, Gugus Tugas Kabupaten Wonosobo mengumumkan munculnya kasus ke-84, alias 1 tambahan pasien terkonfirmasi positif pada Minggu (12/7/2020). Juru bicara Gugus Tugas Kabupaten, dr Muhamad Riyatno ketika dihubungi via telepon menjelaskan, munculnya kasus di wilayah Selomerto tersebut merupakan hasil penelusuran petugas lapangan melalui tes swab secara selektif. "Hasil laporan tim tracking, ada warga Selomerto yang bekerja di Banjarnegara, dinyatakan positif Covid-19, sehingga kami melakukan upaya penelusuran dengan tes swab di lingkungan keluarga terdekatnya," terang dr Riyatno.

Setelah tes swab, sebanyak 4 orang di lingkungan keluarga tersebut salah satu ternyata di konfirmasi positif Covid-19. Kontak erat dari pasien positif yang kini dirawat di salah satu rumah sakit di Banjarnegara itu, menurutnya adalah sang adik kandung, dan masih masuk kategori pasien anak. "Saat ini yang bersangkutan sudah kami rujuk ke RSUD Setjonegoro untuk menjalani perawatan di ruang isolasi," lanjutnya. Ia berharap dengan perawatan secara intensif, pasien secepatnya bisa pulih dan negatif Covid-19. Dengan munculnya kasus ke-84 tersebut, dokter yang kini mengemban amanah sebagai Pelaksana  Tugas (Plt) Kadinkes tersebut menegaskan kembali perihal masih perlunya warga masyarakat untuk tetap waspada dan taat pada protokol kesehatan demi menghindari paparan virus Korona. Pandemi Covid-19 di Kabupaten Wonosobo, menurutnya belum berakhir, mengingat saat ini masih ada 36 PDP, dimana 8 diantaranya tengah dirawat dan 28 lainnya menjalani isolasi mandiri.

Dengan kedisiplinan warga untuk lebih taat pada protokol kesehatan, dr Riyatno optimis, kasus Covid-19 di Kabupaten Wonosobo tak lagi bertambah. "Saya mengajak kita semua untuk lebih serius lagi dalam menghindarkan diri dari paparan virus Korona, jangan kendur hanya karena saat ini masuk masa new normal, karena justru dari pergerakan warga masyarakat dari dan keluar daerah, potensi penyebaran Covid-19 masih bisa terjadi," pungkasnya.

Subscribe to this RSS feed