LRA 2017

A+ A A-

PDAM Tirta Aji Buka Kesempatan Lulusan SMA/SMK Jadi ODP

Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Aji Wonosobo membuka kesempatan bagi generasi millenial lulusan SMA/SMK/MA untuk bergabung dalam program ikatan dinas Officer Development Program (ODP). Kepastian terkait hal tersebut, sebagaimana disampaikan Direktur Utama, Mochammad Sjahid melalui rilis tertulis, Minggu (2/8/2020), akan dimulai tahapan penerimaannya pada Senin (3/8). Syarat dan ketentuan lengkap, disebut Sjahid sudah dapat diunduh  di laman resmi Pemerintah Kabupaten Wonosobo, ada url berikut ini ; https://wonosobokab.go.id/website/index.php/2014-02-22-08-03-03/lowongan-pekerjaan/item/7131-penerimaan-calon-pegawai-ikatan-dinas-odp-officer-development-program-pdam-kabupaten-wonosobo-tahun-2020.

Sebanyak 20 orang, terdiri dari 16 pria dan 4 wanita disebut Sjahid akan diambil pada proses rekrutmen yang berlangsung dalam 7 tahapan tersebut. Syarat utama, peserta seleksi harus merupakan lulusan SMA sederajat dalam rentang tahun 2018-2020 dan maksimal usianya adalah 21 tahun. Selain itu, mereka juga mesti sehat baik jasmani maupun rohani, serta berkelakuan baik dan telah mendapatkan tertulis dari orang tua masing - masing. Kemudian, persyaratan khusus yang harus pula dipenuhi, menurut Sjahid adalah setiap peserta seleksi harus berada pada rentang ranking 1 - 5 atau nilai rata rata raport minimal 85 di mata pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan 1 mata pelajaran peminatan pada semester 1 sampai 5. 

Dalam persyaratan khusus tersebut, dicantumkan pula ketentuan bahwa setiap pelamar mesti bersedia untuk mengikuti program pendidikan ikatan Dinas ODP, bersedia tidak menikah, mampu bekerja secara individu maupun tim, serta bersedia untuk ditempatkan pada kantor cabang PDAM seluruh Wonosobo. Bagi yang memenuhi persyaratan-persyaratan tersebut, dapat mengirimkan aplikasi lamaran selambatnya pada 10 Agustus 2020, dan diterima paling lambat 13 Agustus 2020. Setiap peserta seleksi, bakal menjalani tahapan seleksi administrasi, Tes Seleksi Kompetensi Dasar, Forum Group Discussion (FGD), Psikotes dan Interview Psikolog, Tes Kesamaptaan Jasmani, Tes Kesehatan Bebas Narkoba, Interview User, dan Pengumuman akhir yang direncanakan pada 21 September 2020. Seluruh tahapan seleksi tersebut, ditegaskan Mochammad Sjahid bakal menerapkan protokol kesehatan demi menghindarkan terjadinya penularan Covid-19.

Positif Covid-19 Bertambah Lagi, Sekda Minta Satgas Wilayah Kembali Diaktifkan

Jumlah kasus positif Covid-19 di Kabupaten Wonosobo kembali bertambah lagi pada Jumat (31/7/2020). 1 kasus tersebut terkonfirmasi atas hasil uji swab terhadap suspek asal Desa Wonokerto, Kecamatan Leksono. Dilihat pada laman resmi Pemkab, di corona.wonosobokab.go.id, penambahan 1 kasus positif itu membuat jumlah akumulasi Covid-19 di Wonosobo kini menjadi 85, dengan 84 di antaranya telah dinyatakan sembuh. Juru bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Pemkab Wonosobo, dr Muhammad Riyatno menyebut pasien terkonfirmasi positif Covid-19 itu saat ini telah menjalani perawatan di RSUD Setjonegoro dan dalam kondisi baik.

Menyikapi penambahan kasus positif tersebut, Sekretaris Daerah One Andang Wardoyo meminta agar para pimpinan perangkat daerah hingga Camat di seluruh wilayah untuk mengaktifkan kembali satgas Covid-19. "Dengan ditemukannya satu kasus terkonfirmasi positif Covid-19 hari ini, telah menunjukkan bahwa ancaman penularan virus corona masih terus terjadi," tutur Andang saat dihubungi melalui sambungan telepon, Jumat (31/7/2020). Sehubungan dengan hal tersebut, ia juga meminta perhatian jajaran OPD di lingkup Pemkab untuk terus berperilaku hidup bersih dan sehat. "Disiplinkan seluruh jajaran untuk tetap menggunakan masker,  cuci tangan pakai sabun, serta social distancing selama beraktifitas di masing-masing instansi," imbuhnya.  Para ASN juga dimintanya untuk berperan aktif mengedukasi masyarakat untuk disiplin terhadap protokol kesehatan. Kemudian, mereka juga diimbau agar mengaktifkan dan menggiatkan kembali pemantauan terhadap warga di tempat tinggal masing masing, baik yang datang maupun yang pergi dari atau ke wilayah terjangkit / zona merah untuk secara sadar memeriksakan kesehatan dan isolasi mandiri.

"Untuk para Camat di wilayah, saya juga minta agar mengaktifkan kembali satuan tugas Covid-19 mulai dari RT / RW, Dusun sampai Desa dan Kelurahan demi menghindari penyebaran virus korona ini agar tak terus meluas," tandasnya. Kewaspadaan terhadap penyebaran Covid-19 di Kabupaten Wonosobo, menurut Sekda masih urgen untuk terus disosialisasikan melalui berbagai media, mengingat secara regional Provinsi Jawa Tengah, maupun Nasional pun pertambahan kasus juga terus terjadi. Mobilisasi warga masyarakat antar daerah diakui Andang juga selayaknya tetap diawasi secara ketat, utamanya melalui pengawasan di titik-titik perbatasan antar wilayah sehingga potensi penyebaran virus bisa terus diminimalkan.

Idul Adha Dimaknai Dengan Menghayati Keteladanan, Dan Ketaatan Nabi Ibrahim Dan Putranya Nabi Ismail Kepada Allah SWT

Pada momentum yang penuh keberkahan ini, atas nama Pemerintah Daerah Kabupaten Wonosobo, Bupati Eko Purnomo mengajak kita semua untuk tunduk sepenuhnya pada kemahabesaran Allah SWT, seraya merenungkan kembali keteladanan agung Nabi Ibrahim Alaihissalam, dan putranya Nabi Ismail Alaihissalam, yang telah teruji memiliki keikhlasan, kekuatan hati dan ketaatan mutlak terhadap Allah SWT, ketika mendapat perintah untuk mengorbankan putra terkasihnya, Nabi Ismail Alaihissalam. Selain itu, mengajak untuk meningkatkan ikhtiar menuju hari depan yang lebih baik, melalui peningkatan amal ibadah, serta mempererat jalinan shilaturahmi, menuju persaudaraan ummat manusia yang universal, tanpa memandang politik, madzhab, agama, maupun strata sosial.

Sementara Wabup Wonosobo, Agus Subagiyo meminta, "Di masa pandemi COVID-19 yang masih berlangsung saat ini, Saya minta kepada semuanya, agar tetap bekerjasama dan benar-benar berkomitmen, untuk terus menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), kapanpun, dimanapun".

Sembari menekankan, "Bahwa istilah New normal (atau tatanan baru kehidupan), yang sering kita dengar, bukanlah berarti kehidupan sudah terbebas dari ancaman Covid 19. Arti sesungguhnya dari New normal, adalah setiap individu wajib beradaptasi dengan penyesuaian-penyesuaian baru, dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari pada masa pandemi ini," terangnya. 

Senada, Sekda One Andang Wardoyo menyampaikan, Semua masyarakat diminta harus benar-benar berkomitmen untuk disiplin, dan selalu menerapkan protokol kesehatan, yang telah ditetapkan oleh pemerintah, mulai dari selalu menggunakan masker, menjaga jarak, mencuci tangan dengan sabun, untuk mengalahkan Covid-19. "Oleh karenanya, pada kesempatan yang baik ini, Saya mengajak seluruh masyarakat Wonosobo, untuk meningkatkan kepedulian dan solidaritas bersama, demi Wonosobo Berdaya Menuju Sejahtera," pungkasnya.

Pada kesempatan tersebut Pemkab Wonosobo dengan dana APBD memberikan Hewan qurban tiga ekor sapi yang diserahkan secara simbolis di Masjid Jami', Masjid Al Mansur, dan Alun-alun Wonosobo.

Masyarakat Wonosobo Didorong Menjadi Produsen, Konsumen Dan Distributor Pangan Yang Sadar Aman Pangan

Pemerintah Daerah Kabupaten Wonosobo, melalui Dinas Kesehatan bekerjasama dengan BPOM, mendorong masyarakat Wonosobo agar menjadi produsen, konsumen dan distributor pangan yang sadar aman pangan. Demikian poin yang disampaikan dalam workshop Komunikasi Informasi Edukasi (KIE) Keamanan Pangan bagi Masyarakat di Kabupaten Wonosobo, yang di gelar dua hari Rabu-Kamis (29-30/7), di Pibee Resto, Jl. Jolontoro Gg Melati No 10 Jolontoro Campursari Wonosobo.

Menurut Kabid Pelayanan dan SDK  Dinas Kesehatan Wonosobo, Sudarwoto, SKM, MM, materi yang disampaikan dalam workshop ini, mengenai Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya, Cara Ritel Pangan yang Baik dan Tata cara penyelenggaraan perizinan SPP-IRT. Kegiatan tersebut bertujuan untuk mengedukasi masyarakat agar menjadi konsumen yang cerdas dalam memilih pangan yang aman serta kemasan yang aman untuk pangan. Serta memberikan edukasi untuk mengurangi penyakit metabolit yang berasal dari makanan dan pangan yang beredar, terutama yang beredar di toko dan ritel pangan di Kabupaten Wonosobo. Masyarakat harus pandai dan jeli dalam memilih atau mengkonsumsi makanan. Pangan yang baik adalah yang berìzin edar, aman, dan bebas dari bahan berbahaya. 

Workshop KIE sendiri menghadirkan dua Nara sumber, Drs. Agung Supriyanto, Apt selaku pengawas Farmasi dan Makanan Balai Besar POM di Semarang, Sutriatmoko, S.Si, Apt, M.Sc selaku Ka.Sie Farmamin dan Alkes Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo. Dalam penyampaian materinya para narasumber mengajak masyarakat untuk bersama-sama meningkatkan konsumsi pangan yang aman dan sehat. Pangan yang aman adalah pangan yang bebas dari Bahaya Biologis (bakteri, serangga, tanah, feses dan air kotor yang mengandung mikroba), Bahaya Kimia (bahan berbahaya yang sering disalahgunakan dalam pangan seperti formalin, methanil yellow, rhodamin-b, dan boraks) serta Bahaya Fisik (potongan kuku, pecahan kaca, potongan logam, kerikil/pasir, plastik, rambut).

"Masyarakat harus cerdas memilih pangan yang aman dengan Cek KLIK (Kemasan, Label, Ijin edar, Kedaluarsa), gunakan juga kemasan pangan yang berlogo Tara Pangan atau bertuliskan Food Grade agar masyarakat terhindar dari bahaya kimia," ujar narasumber.

Di era pandemi Covid-19 ini diharapkan,  makanan tidak menjadi sumber penularan virus. Oleh karena itu masyarakat di dorong untuk selalu menerapkan protokol kesehatan di setiap perlakuan rantai pangan, dimulai dari bahan baku sampai produk di meja makan Form Farm to table Approach, selain itu untuk ritel pangan diminta hanya menerima produk pangan yang dijual dengan izin edar dan dalam kemasan baik, serta selalu mengecek data kedaluwarsa produk. Dengan KIE ini diharapkan mampu melahirkan kader-kader Gerakan Keamanan Pangan di seluruh pelosok kabupaten Wonosobo. Karena mewujudkan pangan aman dan bebas bahan berbahaya adalah investasi bangsa. 

Sementara itu, peserta workshop meliputi unsur PKK Kabupaten, UPTD Pasar, pembina UKM desa, unsur pemuda, karang taruna dan saka bhaktihusada serta para ritel. 

Desa Lumbung Darah Pertama Di Jateng Ada Di Wonosobo

Bupati Wonosobo Eko Purnomo, S.E. M.M.,  Bersama Dandim 0707 Wonosobo Letkol C.Zi. Wiwid Wahyu Hidayat canangkan Desa Pungangan Kecamatan Mojotengah sebagai Desa Lumbung Darah di Kabupaten Wonosobo sekaligus yang pertama di Jawa Tengah. Bupati mengucapkan terimakasih dan apresiasi mendalam, atas kepedulian serta solidaritas warga Desa Pungangan, yang telah menginisiasi berdirinya Kelompok donor darah di desanya. "Mudah-mudahan kelompok yang telah berdiri ini, akan banyak membawa kemanfaatan untuk kemanusiaan, mari kita tingkatkan kepedulian dan solidaritas kita bersama, demi Wonosobo berdaya dan sejahtera," demikian disampaikan Eko Purnomo saat mencanangkan Desa Lumbung Darah yang bersamaan dengan penutupan TMMD Sekuyung Tahap II Tahun 2020 di Desa Pungangan Kecsmatan Mojotengah.

Menurut penuturan Kepala Desa Pungangan Supriyono, kelompok Donor darah ini berdiri pada 8 Juli 1990 atas inisiatif kelompok pengajian dengan peserta awal 7 orang. Dilatarbelakangi karena ada salah seorang warga yang sakit saat itu, dan butuh bantuan tambah darah. Kemudian tercetuslah kelompok donor darah di dusun Kleyang Desa Pungangan tersebut.

Sampai saat ini jumlah anggota kelompok sudah mencapai 150 orang, dan yang aktif 120 orang. Rata-rata usia antara 20 sampai dengan 71 tahun. Mereka sudah mendonorkan darah sampai 40 kali bahkan ada yang sudah sampai 87 kali.

Sejumlah Hewan Kurban Terindikasi Sakit

Dinas Pangan, Pertanian Peternakan dan Perikanan Kabupaten Wonosobo menggelar inspeksi ke sejumlah lapak pedagang hewan kurban di kawasan Kota Wonosobo, Rabu (28/7/2020). Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), drh Sidik Driyono ketika ditemui di sela pemeriksaan sejumlah hewan yang diperjualbelikan menjelang Idul Adha 1441 H, menerangkan pihaknya berupaya lebih intensif dalam inspeksi pada tahun ini. “Selain untuk mengetahui sejauh mana kesehatan hewan yang dijual kepada konsumen, kami juga menekankan agar para penjual menaati protokol kesehatan pencegahan Covid-19, yaitu dengan melengkapi diri dengan masker, menyediakan fasilitas cuci tangan untuk konsumen, serta memastikan hewan yang dijual dalam kondisi sehat, sehingga tidak berpotensi menularkan virus,” terangnya.

Dari hasil pemantauan yang digelar di Pasar Hewan Wonolelo, serta 6 lapak pedagang musiman di seputar Kota Wonosobo, Sidik mengakui masih ada temuan dari petugas yang mengindikasikan hewan yang dijual dalam kondisi kurang sehat. “Pemeriksaan dilakukan pada sejumlah kambing dan sapi, kalau di sapi tidak ada indikasi temuan penyakit, namun di beberapa kambing dan domba, ada beberapa yang sedang terkena ping eye atau mata belekan sehingga kami minta untuk segera diobati,” tutur Sidik.  Selain belekan, temuan pada hewan kurang sehat disebut Sidik juga mengarah pada penyakit kulit berupa scabies, atau penyakit kutu hewan yang berpotensi menular pada hewan lainnya. Terhadap temuan-temuan tersebut, pihaknya meminta pedagang untuk menahan penjualan agar tidak sampai menimbulkan kerugian bagi konsumen. Pun demikian dengan temuan pada hewan kurban yang secara usia belum cukup umur atau dalam istilah jawa Poel sampai yang memiliki kecacatan secara fisik, Sidik juga meminta agar pedagang tidak memaksakan untuk menjualnya kepada konsumen.

“Imbauan kami lebih kepada agar ternak hasil pemotongan pada saat hari kurban benar-benar memenuhi standar aman, sehat, utuh dan halal alias ASUH tidak ada indikasi penyakit sirosis hati atau penyakit yang menular ke manusia”, tandasnya. Kepada masyarakat selaku konsumen, Sidik juga menyampaikan imbauan agar lebih teliti lagi ketika membeli hewan untuk kurban agar nantinya tidak mengalami kekecewaan maupun kerugian.

LCW Dieng Hadirkan Keceriaan Di Balai Yatim Hj Maryam

Organisasi sosial nirlaba Lions Club Wonosobo (LCW) Dieng kembali menebar kebahagiaan bagi anak-anak yatim. Setelah beberapa waktu silam menyambangi pondok yatim Darul Qur'an di Gunungtawang Selomerto, Rabu (28/7/2020), mereka membawa keceriaan untuk puluhan anak penghuni Balai Yatim Hj Maryam, di Kalibeber, Mojotengah. Senior Member (anggota senior) LCW Dieng, yang juga istri Wakil Bupati Wonosobo, Ani Agus Subagiyo menyebut, bakti sosial tersebut menjadi bagian dari upaya menumbuhkan semangat bagi anak anak penghuni panti, karena selama masa pandemi Covid 19 mereka lebih banyak berada di dalam lingkungan pondok. Demi membahagiakan anak-anak BY Hj Maryam, LCW Dieng diakui Ani berinisiatif memberikan bantuan berupa goody bag berisi makanan dan buku, serta mengundang Badut sulap untuk menghibur mereka.

"Kami dari Lions Club Wonosobo Dieng, sebagaimana telah menjadi komitmen bersama, berupaya agar seoptimal mungkin selama masa pandemi Covid-19, bisa meringankan beban warga masyarakat termasuk anak-anak di Balai Yatim Hj Maryam hari ini," tutur Ani. Kehadiran LCW Dieng ke Hj Maryam tersebut, menurut perempun yang akrab dengan sapaan bunda Ani itu, sekaligus untuk menyemarakkan peringatan Hari Anak Nasional, serta menyampaikan sejumlah materi edukatif dalam rangka pencegahan Covid-19 di lingkungan pondok. "Anak-anak yang sekian lama tidak bisa keluar dari lingkungan Pondok, kami nilai selain membutuhkan sarana hiburan, juga memerlukan edukasi agar mereka lebih memahami apa dan bagaimana COVID 19 ini agar mampu menghindarkan diri dari penularan," lanjutnya.

Selaras dengan tujuan LCW Dieng, pengasuh BY Hj Maryam, Ny Sukini mengakui dalam masa-masa waspada virus korona, pihaknya lebih banyak mengarahkan anak anak agar tak keluar pondok. Karena itulah, banyak diantara mereka yang menurut Sukini, mengaku sangat bosan dan ingin bermain di sekitar lingkungan pondok demi merasakan suasana berbeda. "Dengan kedatangan rombongan dari Lions Club Wonosobo ini, kami sangat terbantu karena sekaligus membawakan hiburan yang mampu menghadirkan keceriaan untuk anak anak panti," ungkap Sukini. Edukasi perihal pencegahan Covid-19 kepada anak-anak BY Hj Maryam ditambahkan penasehat LCW Dieng, Agus Purnomo, diwujudkan pula dalam bentuk bantuan kepada pengelola pondok, yaitu sebuah Laptop dan Smartphone. "Semoga sarana perangkat teknologi ini akan lebih membantu proses belajar di Hj Maryam, termasuk bagaimana menyampaikan ilustrasi pencegahan Covid-19 secara lebih menyenangkan," pungkas Agus.

Bupati Ajak Warga Masyarakat Solid, Produktif Namun Tetap Waspada Pagebluk Covid-19

Pemerintah Kabupaten Wonosobo memutuskan untuk tetap menggelar Pisowanan Mirunggan, alias peringatan Hari Jadi ke-195, yang jatuh pada Jumat (24/7/2020). Digelar secara terbatas dan tertutup dengan peserta hanya 25 pejabat tertentu di lingkup Pemkab serta Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkompimda) beserta istri, upacara pisowanan tetap menerapkan protokol kesehatan demi mengantisipasi potensi penularan virus Corona. Setiap pejabat yang hendak memasuki kawasan pendopo wingking (Pendapa Belakang) diwajibkan untuk mengenakan masker, sarung tangan karet dan menjalani cek suhu tubuh oleh petugas dari Dinas Kesehatan. Bupati, KRMT Eko Purnomo selaku Pangarso Praja dalam pisowanan Mirunggan menegaskan penerapan protokol kesehatan adalah demi menjaga agar tak sampai peringatan Hari Jadi ke-195 Wonosobo menjadi sumber penularan Covid-19.

Dalam sabda pangarsa praja, alias sambutan tertulisnya dalam bahasa jawa krama inggil, Eko juga menyebut kewaspadaan terhadap potensi penularan Covid-19 mesti dipahami pula oleh warga masyarakat. "Meski saat ini di Wonosobo sudah nihil kasus konfirmasi positif Covid-19, setelah sebelumnya secara akumulatif tercatat ada 84 kasus, saya meminta seluruh jajaran ASN maupun masyarakat luas agar tetap solid menjaga diri dari paparan virus Corona ini," tuturnya. Kepada para pejuang di garda penanganan Covid-19 Kabupaten Wonosobo, mulai dari para tenaga medis, relawan, jajaran TNI-Polri hingga seluruh elemen masyarakat yang telah bahu membahu secara sinergis, Eko menyampaikan terimakasih dan apresiasi setulus hati, serta meminta mereka semua agar senantiasa solid dalam koordinasi dan komunikasi.

Selain itu, dalam masa pandemi, atau disebut pula dengan pagebluk wabah Covid-19, Bupati juga mengharapkan agar warga masyarakat tak surut dalam berkreasi dan berkarya, meski harus tetap selalu waspada. Dalam setiap aktifitas, baik dalam lingkup keagamaan, perekonomian, sosial kemasyarakatan, hingga seni dan kebudayaan, ia menegaskan seluruh warga masyarakat tetap wajib mematuhi imbauan pemerintah untuk pencegahan penyebaran Covid-19. "Sebagaimana tema Hari Jadi ke-195 ini, kita semua harus menumbuhkan solidaritas dan kepedulian demi Wonosobo Berdaya Menuju Sejahtera," tegasnya.

Gelaran peringatan Hari Jadi Ke-195 Wonosobo, sebagaimana dijelaskan oleh Sekretaris Daerah, One Andang Wardoyo memang serba terbatas. Namun demikian, secara simbolis, seluruh rangkaian yang biasa dihelat sebelum pisowanan agung tetap diselenggarakan. "Ritual pengambilan air suci, ziarah makam, hingga hastungkara umbul donga juga telah sukses kita adakan, bahkan sampai pada prosesi Mbirat Sengkala semalam juga telah digelar," tuturnya. Dalam seluruh rangkaian kegiatan sederhana tersebut pihak panitia disebut Andang sangat ketat dalam penerapan protokol kesehatan, sehingga secara jumlah personel yang terlibat pun sangat dibatasi.

"Sirnaning Memala" Persembahan Diskominfo 195 Tahun Wonosobo

Dusun Ledok, Desa Plobangan di Negeri Saba geger, setelah sejumlah warga diketahui sakit mendadak, dan bahkan sebagian dari mereka tiba-tiba meninggal dunia. Warga dusun yang sebelumnya tenang, nyaman, gemah ripah loh jinawi, mendadak dicekam rasa takut, panik, cemas dan sedih bercampur aduk dalam benaknya. Mereka diminta untuk tidak keluar rumah, tidak beraktifitas baik bertani maupun berdagang, sehingga banyak yang mendadak jatuh miskin, bahkan sekedar memenuhi kebutuhan makan sehari-hari nya pun kesulitan. Beruntung, di tengah kondisi yang kian memprihatinkan itu, Ki Jogoboyo, sesepuh sekaligus penanggung jawab ketenteraman desa segera menemukan asal muasal penyebab munculnya pageblug tersebut. "Semua berawal dari kealpaan kita sendiri yang selama beberapa warsa terakhir tidak menggelar Merti Desa sebagai bentuk memuji dan rasa syukur atas panen melimpah warga desa," tutur Ki Jogoboyo dalam gelar pisowanan bersama para pemangku dusun. Atas inisiatif Ki Jogoboyo pula, kisruh yang menimpa Dusun Ledhok kemudian diurai, dengan kembali menggelar Merti Desa, yang juga diiringi dengan Doa bersama dan tarian Lengger sebagai wujud dari masih adanya rasa syukur segenap warga. Pada akhirnya memala bisa sirna, Dusun Ledhok kembali makmur, warga sehat, tenang bekerja, dan panen pun melimpah ruah.

Sekelumit cerita itu merupakan bagian dari adegan-adegan dalam Drama teatrikal yang diperankan seluruh karyawan karyawati Dinas Komunikasi dan Informatika, sebagai persembahan atas Ambal Warsa alias Ulang Tahun ke 195 Kabupaten Wonosobo. Direncanakan, drama sepanjang hampir 30 menit itu akan ditayangkan bertepatan dengan Hari Jadi Wonosobo, Jumat (24/7/2020), di kanal youtube Pemkab Wonosobo, Official WEB. Kepala Dinas Kominfo, Eko Suryantoro ketika ditemui di sela pengambilan gambar, Kamis (23/7/2020) menyebut inisiatif untuk mempersembahkan drama tradisional, tak lepas dari keinginan jajaran pegawai untuk Mangayubagyo, atau turut berbahagia dan mendoakan Kabupaten Wonosobo, agar di usia ke 195, semakin kuat, tangguh, semakin maju, semakin sejahtera dan mandiri, meski saat ini pun tak luput dari keprihatinan akibat Pandemi Covid-19. "Kami dengan dibantu para seniman di Forum Komunikasi Media Tradisional (FK Metra) menggagas drama ini hanya dalam waktu seminggu terakhir sekaligus merancang skenario hingga pengambilan gambarnya," terang Eko. Digarap sengkuyung seluruh pegawai, akhirnya pengambilan gambar bisa diselesaikan dalam 2 hari, karena memang semua dikerjakan setelah jam kerja, atau pukul 16.00 WIB. Ia berharap, drama itu mampu menjadi hiburan bagi warga, mengingat untuk rangkaian peringatan Hari Jadi ke-195 yang masih dalam suasana pandemi, memang pemkab tidak menggelar secara meriah sebagaimana lazimnya tahun tahun sebelumnya yang selalu melibatkan warga masyarakat.

Dalang, atau sutradara drama, Bambang Sutejo menambahkan perihal gagasan mengangkat cerita Memala di Dusun Ledok, Plobangan. Menurutnya, memala atau pagebluk menjadi gambaran dari munculnya wabah Covid-19 yang telah memukul setiap sendi kehidupan warga masyarakat Wonosobo. Sementara, dipilihnya desa Plobangan, adalah agar warga masyarakat paham dengan sejarah berdirinya Kabupaten Wonosobo yang  berawal dari dusun itu, 195 tahun silam. "Ini drama penggambaran kehidupan di tengah suasana pagebluk atau pandemi wabah yang juga sarat dengan cerita sejarah awal berdirinya kabupaten Wonosobo," tutur Bambang. Para pemeran setiap karakter, yang merupakan karyawan karyawati, diakui Bambang memberikan tantangan tersendiri karena semua memang belum pernah bermain drama tradisional. Namun dengan gotong royong, saling dukung dan komitmen bersama untuk Wonosobo, hal itu menurutnya tak menjadi kendala berarti. "Semoga bisa menjadi tontonan sekaligus tuntunan yang menghibur dan mengedukasi, serta membuka wawasan tentang kesejarahan Kabupaten kita tercinta ini," pungkasnya.

Subscribe to this RSS feed