LRA 2017

A+ A A-

Hindari Kerumunan, Lions Door To Door Bantu Warga Dhuafa

Lions Club (LC) Wonosobo Dieng punya cara jitu, dalam upaya mereka meringankan beban warga kurang mampu yang saat ini makin terpuruk akibat terbatasnya akses usaha di tengah masa pandemi COVID-19. Demi menaati aturan agar proses penyerahan bantuan tak sampai mengundang kerumunan massa, para pengurus organisasi nirlaba Internasional itu mendatangi langsung warga penerima bantuan ke rumah masing-masing, atau di lokasi usaha mereka. Hal itu terlihat ketika pada Sabtu (4/4/2020) sejumlah pengurus LC menggelar aksi sosial mereka di sejumlah titik di seputaran Kota Wonosobo.

Penasehat LC Wonosobo Dieng, Agus Purnomo, saat ditemui di sela penyerahan bantuan untuk keluarga Mislam (42), pemijat Tuna Netra yang bermukim di Sudagaran, menyebut aksi sosial tersebut merupakan bentuk kepedulian organisasi terhadap kondisi warga yang terdampak pandemi COVID-19. "Saat ini sudah banyak pelaku usaha kecil yang mengeluhkan sepinya usaha mereka karena warga lebih banyak yang tinggal di rumah," jelas Agus. Hal itu menurut Agus jelas membuat warga yang biasa menggantungkan hidup dari usaha harian, menanggung beban kerugian karena minimnya pendapatan. "Contohnya pak Mislam ini, sebelum adanya wabah COVID-19 setiap hari ada pasien yang datang karena butuh jasa pijatnya, tapi sejak adanya pembatasan pergerakan warga, sudah sekitar 10 hari ini tidak ada satupun pasien," bebernya lebih lanjut. 

Karena itulah, bersama jajaran pengurus LC Wonosobo Dieng, Agus mengaku akan secara bertahap menyalurkan bantuan berupa paket kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, gula pasir hingga mie instan untuk kaum dhuafa dan difabel. Selama sehari, ia bersama pengurus dan koordinator TKSK Kabupaten, Tri Purwanto menyerahkan tak kurang dari 123 paket sembako kepada pedagang keliling, kusir dokar, ojek pangkalan hingga penderita disabilitas.

Kepedulian LC Wonosobo Dieng tersebut, menurut Lina Paulus selaku koordinator aksi masih akan terus berlanjut demi menumbuhkan semangat berbagi di kalangan masyarakat. "Di tengah kondisi yang serba prihatin akibat wabah corona ini, sudah saatnya kita menebarkan semangat agar warga masyarakat tetap sabar dan saling peduli satu sama lainnya," pungkas Lina.

Pulang Dari Gowa, Hasil Rapid Tes Tiga Warga Sapuran Reaktif

Tiga orang warga Kecamatan Sapuran, Sabtu (4/4/2020) malam harus menjalani perawatan di ruang isolasi PDP COVID-19, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) KRT Setjonegoro Wonosobo. Kepastian perihal tersebut disampaikan Juru Bicara Pemkab Wonosobo untuk penanganan wabah Corona, dr. Muhamad Riyatno, dalam konferensi pers di Sekretariat Satgas COVID-19, Minggu (5/4/2020). Bersama Kepala Dinas Kesehatan Junaedi dan Kepala Bidang Pencegahan Penyakit, Jaelan, dr. Riyatno menyatakan bahwa kabar yang beredar di jejaring sosial masyarakat terkait adanya 3 orang yang masuk kategori Pasien dalam Perawatan (PDP) adalah benar. Namun demikian, ia juga menegaskan bahwa ketiganya belum menjalani uji laboratorium berupa real time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) sebagai acuan utama penegakan diagnosa apakah yang bersangkutan benar-benar positif COVID-19.

“Tiga orang ini dirujuk ke ruang isolasi RSUD Setjonegoro dari hasil Rapid Diagnostic Tes (RDT) setelah diketahui mereka memiliki gejala klinis yang mengarah pada COVID-19, serta memiliki riwayat perjalanan dari daerah terjangkit, yaitu dari Gowa Sulawesi Selatan,” terangnya. Dari hasil rapid test yang dilakukan oleh tim dari Puskesmas Sapuran dan Dinas Kesehatan, Riyatno menyebut ketiga orang tersebut ternyata reaktif atau memerlukan tindak lanjut berupa isolasi dan mesti menjalani tes lanjutan dengan RT-PCR. Dengan adanya tambahan tiga orang, maka jumlah PDP di Kabupaten Wonosobo menurut Riyatno sudah mencapai 10 orang. “4 orang diantaranya sudah dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang, sehingga yang saat ini menjalani perawatan di ruang isolasi sejumlah 6 PDP, dengan 1 orang yang sudah konfirm positif COVID-19,” urainya.

Terkait dengan RDT (Rapid Test) bagi orang dengan resiko COVID-19, Kepala Dinas Kesehatan, Junaedi menjelaskan bahwa Kabupaten Wonosobo menerima 555 unit alat tes cepat yang bisa memunculkan hasil dalam waktu 15-20 menit tersebut. “Sebanyak 420 unit sudah didistribusikan ke Rumah Sakit dan Puskesmas, kemudian sudah digunakan sebanyak 101, dengan hasil sebanyak 96 menunjukkan tidak reaktif atau negatif, 4 reaktif atau perlu uji lanjutan dan 1 preparat lainnya rusak,” ungkap Junaedi.

Alat RDT, seperti dijelaskan Kabid pencegahan penyakit Dinkes, Jaelan hanya digunakan untuk pengamatan alias screening orang yang diduga memiliki potensi COVID-19 karena riwayat perjalanan, gejala klinis, hingga riwayat kontak dengan penderita. “Prinsip kerja dari RDT ini adalah mendeteksi antibodi (IgM dan IgG) dalam serum darah yang keluar akibat masuknya bibit penyakit,” jelasnya lebih lanjut. Sesuai protap, Jaelan menyebut apabila hasil RDT negatif, maka perlu diulang tes setelah 10 hari, namun apabila ternyata reaktif, kemudian dilanjutkan dengan RT-PCR.

Stok Kebutuhan Pokok Masyarakat Aman

Pemerintah Kabupaten Wonosobo memastikan ketersediaan bahan pokok untuk mencukupi kebutuhan masyarakat aman hingga tiga bulan kedepan. Hasil monitoring ke gudang Bulog sawangan dan sejumlah distributor sembako yang ada di kawasan Kota oleh tim gabungan Pemkab pada Rabu 1 April 2020, menunjukkan bahwa persediaan beras maupun kebutuhan pokok lainnya, dalam masa darurat bencana non alam COVID-19 ini masih sangat mencukupi. Kepala Bagian Perekonomian Setda, Siti Nuryanah ketika ditemui seusai monitoring menjelaskan bahwa upaya pemerintah Kabupaten untuk terus melakukan penelusuran langsung ke lapangan terkait ketersediaan bahan pokok, adalah demi memastikan agar warga masyarakat tak perlu panik dan melakukan aksi borong.

Tak hanya gudang bulog saja, Siti menyebut tim gabungan juga menyasar sejumlah distributor dan toko penjual bahan pokok masyarakat, seperti beras, gula pasir, minyak goring, mie instan dan tepung. “Hari ini kami di tim gabungan untuk pemantauan kebutuhan pokok masyarakat Pemkab Wonosobo telah melakukan tinjauan langsung ke lapangan guna memastikan perihal ketesediaan bahan-bahan pokok baik di gudang bulog Sawangan, sampai distributor penyedia seperti Indomarco, Sumber Makmur, Sri Rejeki, Pandan Wangi, Sariwangi dan Lariso,” terang Siti. Secara umum, hasil pemantauan tersebut menurutnya menunjukkan bahwa persediaan sembako di wilayah Wonosobo aman, termasuk di dalamnya gula pasir yang sebelumnya sempat diisukan langka ternyata masih tersedia cukup di pasar.

Selain itu, Siti juga menuturkan pemantauan tersebut mencakup pula kelancaran distribusi dan harga-harga sembako yang akan sangat berpengaruh pada daya beli masyarakat. Secara harga, sembako di pasaran wilayah Wonosobo disebut Siti masih berada di kisaran yang wajar dan terjangkau masyarakat, bahkan untuk gula pasir, menurutnya ada penurunan harga sekitar 500 sampai 700 Rupiah per Kilogramnya, dan saat ini ada di sekitar Rp.16.000,- . “Sementara untuk volume ketersediaan, beras di gudang bulog Sawangan saat ini ada 211 ton, dan pada tak lama lagi aka nada tambahan 300 ton, di 3 distributor besar tersedia 65 ton, kemudian di eks Karesidenan Kedu saat ini tersedia beras sejumlah 6.000 ton,” bebernya.

Untuk kebutuhan minyak goreng pun, Siti menyebut saat ini stok yang tersedia di gudang mencapai 30 ton minyak curah, dan 30 Ribu liter minyak Kemasan. Dengan kondisi tersebut, ia berharap agar warga masyarakat Wonosobo tenang, tak perlu panik sehingga melakukan aksi borong sembako. “Masyarakat tidak perlu takut, tidak usah memborong dan menimbun karena ketersediaan bahan pokok di Wonosobo dijamin aman dalam menghadapi pandemi virus corona,” pungkasnya.

770 Lebih Warga Masuk Kategori ODR, Kalikajar Perluas Penyemprotan Desinfektan

Pemerintah Kecamatan Kalikajar terus berupaya untuk mencegah penyebaran virus korona, salah satunya dengan menggencarkan penyemprotan desinfektan secara lebih masif. Setelah beberapa waktu sebelumnya menggelar kegiatan sterilisasi ke desa-desa dan sepanjang jalan utama kecamatan, pada Jum'at (3/4/2020) kegiatan serupa kembali terlihat. Puluhan kendaraan, baik roda 2 maupun roda 4 yang melewati jalan utama Wonosobo - Sapuran via Kalikajar disemprot desinfektan demi menjaga agar tidak ada kuman, bakteri maupun virus menempel di badan kendaraan, sehingga penumpang maupun pengemudi terhindarkan dari penularan wabah korona.

Bupati Wonosobo, Eko Purnomo bahkan turun langsung memimpin tak kurang dari 100 personel yang terlibat dalam kegiatan sterilisasi tersebut, didampingi Camat Kalikajar, Bambang Triyono dan Forkompimca setempat. Kepada para relawan lintas sektor yang terlibat dalam upaya sterilisasi wilayah pada kesempatan tersebut, Bupati menyampaikan terimakasih dan apresiasinya, mengingat di tengah situasi tanggap darurat bencana non alam penanggulangan wabah COVID-19 ini memang diperlukan kesadaran dan semangat semua pihak, untuk bahu-membahu mengatasi pandemi. Dengan adanya kerjasama yang terkoordinir dengan baik, Bupati mengaku optimis wabah COVID-19 yang kini telah menginfeksi lebih dari 1 Juta penduduk di 200 lebih Negara di dunia ini akan dapat diatasi. Pihak Kecamatan, juga diminta Bupati untuk tak henti menggelorakan semangat warga agar tidak lemah menghadapi korona. “Terus jaga kebersihan, jaga kondisi kesehatan diri, minimalkan potensi resiko dengan tidak bepergian dan tetap di rumah, serta jangan lupa untuk berdoa memohon kepada Yang Maha Kuasa agar melindungi kita semua dari wabah penyakit ini,” tandas Bupati.

Di Kecamatan Kalikajar, seperti dituturkan Camat Bambang Triyono saat ini ada lebih dari 700 warga yang masuk kategori Orang Dengan Resiko (ODR) COVID 19. Jumlah tersebut, menurutnya diperoleh dari pendataan di 2 Puskesmas di wilayahnya, yaitu Puskesmas Kalikajar I dan Kalikajar II. “Data dari Puskesmas Kalikajar 1, hasil pengamatan ada 355 ODR, dengan rincian 7 orang karena memiliki riwayat perjalanan dari Negara terjangkit dan 348 orang dari wilayah Indonesia terkangkit,” bebernya. Sementara dari Puskesmas Kalikajar II, Bambang menyebut hasil pendataan ODR mencapai 416, dan seluruhnya dikarenakan mereka memiliki riwayat perjalanan dari daerah terjangkit namun masih di dalam Negeri. Dari kondisi itulah, Bambang mengaku senantiasa mengajak sejumlah elemen, mulai dari TNI - Polri, Kepala Desa, Organisasi Kemasyarakat seperti Banser, Komunitas Netral Sobo Mandiri, dan RPB Jogonegoro. “Termasuk dalam pengadaan obat dan  cairan desinfektan ini kami secara mandiri dibantu oleh elemen masyarakat lintas sector tersebut,” pungkasnya.

WFH ASN Berlanjut Bagi Pelaksana dan JFT

Kebijakan Bupati Wonosobo terkait sistem kerja aparatur sipil Negara (ASN) di lingkup Pemkab selama masa pencegahan penyebaran virus corona berubah. Berbeda dengan Surat Edaran sebelumnya, terhitung mulai Rabu, 1 April 2020 seluruh pejabat struktural kini diwajibkan untuk tetap berdinas di unit kerja masing-masing, tanpa ada work from home, atau bekerja dari rumah. "Kebijakan WFH masih berlanjut secara bergantian atau sistem shift bagi para pejabat fungsional tertentu dan pelaksana di setiap unit kerja, kecuali di Kecamatan dan unit layanan kesehatan," jelas Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Dinas Komunikasi dan Informatika, Hapipi ketika ditemui di ruang kerjanya, Rabu (1/4/2020).

Melalui Surat Edaran Bupati bernomor 060/064/org tersebut, Hapipi juga menerangkan sejumlah kebijakan lainnya dalam masa siaga darurat bencana non alam COVID 19. Menurutnya, kebijakan work from home bagi ASN di lingkup Pemkab Wonosobo bakal diperpanjang hingga 21 April 2020 dengan tetap ada evaluasi lebih lanjut sesuai kebutuhan. Sistem shift alias pergantian piket bagi pegawai di setiap unit kerja, disebut Hapipi menjadi kewenangan masing - masing pimpinan organisasi perangkat daerah. "Setiap ASN, sebagaimana diatur dalam Surat Edaran sebelumnya juga masih diwajibkan untuk menjalankan peran, tugas dan fungsi nya baik ketika WFH maupun berada di kantor," urainya lebih lanjut.

Kinerja para pegawai, disebut Hapipi akan tetap dipantau melalui aplikasi kinerja elektronik atau e.kinerja yang wajib diisi dengan minimal akumulasi waktu 4001 menit per bulan. "Dalam SE ini juga disebutkan bahwa khusus bagi Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga, pengaturan sistem kerja JFT dapat dilaksanakan secara internal," tandasnya. Demikian pula bagi 15 Kecamatan yang ada di Wonosobo, Hapipi menyebut para Camat diminta menindaklanjuti SE Bupati untuk sistem kerja para Kades maupun Kalur di wilayahnya masing-masing.

Desa Candi Siapkan Area Isolasi Untuk ODP COVID-19

Desa Candi Kecamatan Selomerto layak menjadi percontohan bagi desa-desa lain di Kabupaten Wonosobo dalam hal antisipasi dan penanggulangan wabah virus Corona (COVID-19). Menghadapi ancaman virus yang kini telah menjadi pandemik secara global tersebut, warga masyarakat desa telah memiliki kesadaran untuk bergerak bersama. Pemerintah Desa pun secara berkelanjutan terus menanamkan pentingnya kesadaran seluruh warga demi menghindarkan mereka dari terpapar penyakit yang hingga kini masih dicari vaksin penawarnya itu. Salah satu langkah pihak Pemerintah Desa Candi, terlihat ketika pada Rabu (1/4/2020) mereka menggandeng komunitas Burung Kicau untuk membantu warga yang kini mulai terdampak secara ekonomi akibat lesunya usaha mereka setelah dihantam Corona.

“Dampak dari merebaknya virus Corona ini membuat perekonomian desa Candi yang mengandalkan sektor pertanian menjadi lesu, sehingga kami tergerak untuk mengajak komunitas burung berkicau, hari ini turun membantu meringankan beban warga,” ungkap Kepala Desa Candi, Rochim ketika ditemui di sela kegiatan penyerahan bantuan berupa bahan pokok bagi warga difabel dan kurang mampu, di Balai Desa setempat. Melemahnya perekonomian desa, menurut Rochim tak lepas dari seretnya penjualan komoditas unggulan seperti buah salak maupun durian yang kini pemasarannya menjadi sangat terbatas. Bahkan beberapa petani, disebut Rochim kini tak mampu menanggung biaya operasional ketika hendak memanen salak, karena belum ada pembeli. 

Kondisi tersebut, menurut Rochim pada akhirnya berdampak pada perputaran ekonomi warga masyarakat yang selama ini mengandalkan pekerjaan ketika ada panen salak. Karena itulah, Rochim menyebut mereka layak mendapatkan bantuan untuk menyambung kehidupan di tengah sulitnya mendapatkan lahan rejeki seperti saat ini. Penyerahan bantuan sembako yang juga dilakukan tanpa melanggar protokol kesehatan, yaitu social distancing (jaga jarak aman) antar warga.  “Selain pemberian bantuan ini, kami juga bersiap dengan antisipasi menghadapi kemungkinan terburuk, yaitu apabila ada Orang Dalam Pemantauan (ODP) maupun Pasien Dalam Pengawasan (PDP), pihak Pemdes mengupayakan satu area isolasi khusus agar tak sampai menularkan ke warga lainnya,” lanjutnya. 

Dalam beberapa waktu terakhir, warga desa Candi disebut Rochim juga telah melaksanakan upaya sterilisasi lingkungan berupa penyemprotan di sekitar permukiman dengan menggunakan cairan desinfektan secara mandiri. Bahkan di jalan masuk ke desa Candi, kini telah disiapkan portal untuk melakuan semprot desinfektan pada kendaraan yang hendak masuk, juga dilengkapi keran air untuk warga mencuci tangan sebelum memasuki wilayah desa Candi. Tak hanya itu, pihak Pemdes diakui Rochim juga telah menyampaikan imbauan berupa kiat sederhana dalam upaya mencegah diri dari paparan COVID-19, yaitu meminta warga agar setiap hari, atau minimal dua hari sekali bisa berjemur di luar rumah. “Semoga semua ikhtiar kami ini akan mampu menghindarkan warga desa Candi dari wabah Corona, dan kami juga terus berdoa agar wabah ini secepatnya hilang dari muka bumi sehingga semua bisa berjalan normal lagi seperti sedia kala,” pungkasnya.

Tim Gabungan Semprot 45 Ribu Liter Desinfektan Ke Seluruh Wilayah

Hampir seluruh wilayah Kabupaten Wonosobo diguyur desinfektan pada Selasa pagi (31/3/2020). Tim gabungan dari Kodim 0707, Polres, Satpol PP, dan BPBD bergerak mulai dari halaman Polres Wonosobo menuju ke berbagai penjuru demi mengamankan warga masyarakat dari ancaman virus Corona (COVID-19). Dipimpin langsung oleh Incidental Commander (IC) Gugus Tugas Penanggulangan Darurat Bencana Wabah Corona Kabupaten Wonosobo, Letkol Czi, Wiwid Wahyu Hidayat, penyemprotan cairan desinfektan menyasar hingga ke desa-desa.

“Tujuan dari sterilisasi massal ke seluruh penjuru Wonosobo ini adalah untuk memutus mata rantai penyebaran virus yang kini telah menjangkiti hampir seluruh Negara di Dunia agar tak meluas di Kabupaten kita tercinta,” terang Dandim ketika ditemui sebelum penuangan cairan desinfektan ke Water Canon Polres Wonosobo, yang beralih fungsi dari kendaraan taktis menjadi kendaraan penyemprot. Kepada warga masyarakat Wonosobo, Dandim berpesan agar kompak dalam menanggulangi pandemic Corona ini dengan turut berperan aktif memutus mata rantai penyebarannya. “Diam di rumah, jangan terlalu banyak aktifitas di luar agar mengurangi potensi penularan, juga sangat berarti di waktu-waktu seperti ini,” imbau Dandim. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya kesadaran warga untuk tidak menyelenggarakan keramaian yang akan mengundang kerumunan massa, serta melaksanakan sterilisasi mandiri di  lingkungan masing-masing. Masing-masing orang, ditegaskan Letkol Wiwid memiliki peran sehingga sudah selayaknya menghilangkan stigma bahwa tanggung jawab atas penanggulangan sepenuhnya di tangan pemerintah.

Senada, Kapolres Wonosobo, AKBP Fannky Ani Sugiharto juga menyebut perlunya warga masyarakat patuh terhadap protokol kesehatan dalam rangka mencegah meluasnya penyebaran COVID-19. Khusus bagi warga dari luar Kota yang beberapa waktu terakhir kembali ke Wonosobo, Kapolres juga menegaskan agar mereka harus bersedia menjalani masa karantina mandiri selama 14 hari. “Jangan nanti baru 4 atau 5 hari karena merasa tidak ada gejala virus terus keluar rumah dan berinteraksi dengan orang banyak,” tegasnya. Semua orang, disebut Fannky harus menjalankan peran mereka demi orang-orang terdekat, orang-orang yang dicintai serta tetangga di lingkungannya dengan mematuhi karantina wajib itu secara ikhlas.

Demi terbebasnya Wonosobo dari virus Corona, Fannky menyebut tim gabungan mengerahkan banyak personel, dan menghabiskan tak kurang dari 45.000 liter cairan desinfektan. Sedikitnya 10 kelompok diarahkan ke berbagai penjuru Wonosobo agar proses desinfektan bisa berjalan secara merata. 

Kendaraan Taktis dan Damkar Semprotkan Desinfektan Di Tiga Lokasi

Tim gabungan lintas sektor di bawah koordinasi Komandan Kodim 0707 Wonosobo, Letkol Czi Wiwid Wahyu Hidayat kembali bergerak mensterilkan sejumlah lokasi strategis dengan cairan desinfektan, demi mencegah penyebaran virus Corona, Sabtu (28/3/2020) malam. Tak kurang dari 10 kendaraan, dengan satu kendaraan taktis dari Polda Jateng, serta kendaraan milik Pemadam Kebakaran, BPBD, ditambah beberapa truk pengangkut pasukan dari Kodim, dikerahkan dalam penyemprotan yang menyasar lokasi utama di Pasar Kertek, Pasar Sumberan dan area Taman Fatmawati itu. Jumlah personel yang ditugaskan dalam kegiatan tersebut, menurut Dandim selaku IC Satgas COVID-19 Kabupaten Wonosobo mencapai 100 orang, dibagi dalam 3 tim.

“Selain personel Kodim 0707, turut terlibat dalam upaya sterilisasi dengan cairan desinfektan ini adalah dari Polres Wonosobo, BPBD, Dinas Kesehatan, Satpol PP dan puluhan personel dari unsur relawan berbagai organisasi kemasyarakatan,” terang Dandim. Demi efektifitas dan efisiensi pekerjaan, tiga tim tersebut menurut Dandim, ditugaskan ke tiga lokasi yang telah ditentukan dengan dibekali mesin semprot mandiri, tanki air dan obat desinfektan. Untuk kendaraan taktis dari Polda Jateng yang biasanya digunakan untuk menghalau unjuk rasa anarkis, Letkol Wiwid menyebut pada kesempatan tersebut dimanfaatkan sebagai mesin berdaya semprot tinggi sehingga mampu mensterilkan jalan-jalan protokol di area Kota Wonosobo hingga wilayah Kertek. Demikian pula dengan kendaraan pengangkut air milik Damkar dan BPBD, juga difungsikan untuk menyemprot jalan dan bangunan-bangunan di pinggir jalan yang biasanya ramai dengan warga masyarakat di siang hari.

Terkait pemilihan lokasi, Sekretaris Daerah One Andang Wardoyo yang turut mendampingi Bupati Eko Purnomo bersama sejumlah pimpinan OPD Pemkab dalam kegiatan tersebut, menerangkan bahwa lokasi strategis seperti pasar diutamakan karena potensi keramaian nya dinilai rawan menjadi media penyebaran virus corona. Selain pasar, taman Fatmawati di Tawangsari juga dinilai masih sering menjadi tempat aktivitas warga masyarakat, seperti olahraga ringan maupun sekedar berekreasi di Minggu pagi. “Dengan upaya sterilisasi, yang akan dilakukan secara berkala ini kami optimis potensi penyebaran virus Corona di Kabupaten Wonosobo bisa ditekan,” tuturnya. Terlebih, saat ini pihak pemerintah Kabupaten diakui Andang juga telah mengedarkan imbauan hingga ke Desa dan Kelurahan agar setiap wilayah dapat melakukan upaya sterilisasi secara mandiri. Warga masyarakat di lingkungan masing-masing, menurut Sekda juga mesti aktif berperan dalam upaya pencegahan penyebaran COVID-19 yang kini telah menginfeksi lebih dari 500 ribu orang di seluruh dunia tersebut.

Pantau Ketat Pemudik, Pemkab Siapkan 6 Posko Di Perbatasan

Bupati Eko Purnomo menegaskan status darurat bencana virus Corona di Kabupaten Wonosobo akan berlaku setidaknya sampai 14 hari kedepan. Dengan kondisi tersebut, Pemkab disebut Bupati bakal melakukan sejumlah langkah strategis dalam upaya mencegah penyebaran virus agar tak meluas di seluruh wilayah di Wonosobo. “Dengan meningkatnya status daerah menjadi darurat bencana virus Corona dalam 14 hari kedepan maka dengan segala hormat saya meminta Komandan Kodim 0707 Wonosobo, Letkol Czi Wiwid Wahyu Hidayat untuk bertindak sebagai IC,” tegas Bupati saat menyampaikan arahan kepada ratusan personel tim gabungan yang hendak melaksanakan sterlisasi desinfektan pasar Sumberan, Pasar Kertek dan Taman Fatmawati, di halaman Kodim 0707, Sabtu (28/3/2020) malam.

Selama masa darurat bencana Corona tersebut, Bupati juga menyebut Pemkab bakal memantau ketat dengan metode screening para pemudik dari luar Wonosobo. Di setidaknya 6 titik area perbatasan dan terminal angkutan antar Kota, Satgas COVID 19 Kabupaten telah diminta oleh Bupati untuk mendirikan posko pemantauan, sebagai tempat pemeriksaan kepada para pendatang sebelum memasuki Wonosobo. “Menyikapi banyaknya warga Wonosobo yang pulang kampung dari berbagai Kota, mulai besok pagi sudah akan diberlakukan screening ketat dengan cara diperiksa kesehatannya di 6 posko yaitu meliputi Terminal Sawangan Leksono, Pos perbatasan dengan Temanggung di Desa Reco Kertek, Perbatasan dengan Magelang dan Purworejo di Silentho Sapuran, Perbatasan dengan Kebumen di Wadaslintang, Perbatasan dengan Banjarnegara di Dieng, serta perbatasan dengan Temanggung di Desa Tambi Kejajar,” bebernya. Posko tersebut, menurut Bupati akan diisi sejumlah personel yang terdiri dari unsur TNI-Polri, Dinas Perhubungan, serta Dinas Kesehatan.

Di sektor dukungan anggaran untuk penanganan COVID-19, Bupati juga mengaku saat ini Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) sudah menyusun skema perubahan APBD 2020 dan segera akan dibahas dengan DPRD. “TAPD juga sudah bekerja untuk skema perubahan APBD demi mendukung penanganan COVID19, diantaranya untuk sektor kesehatan seperti pengadaan alat pelindung diri (APD) bagi tenaga kesehatan di garda terdepan, insentif tenaga kesehatan, serta untuk jaring pengamanan sosial,” tuturnya lebih lanjut. Selain itu, Bupati juga menyebut saat ini sejumlah langkah antisipatif terus diupayakan, termasuk menyiapkan tempat isolasi komunal bilamana terjadi kondisi terburuk di Kabupaten Wonosobo. Bersama Forkompimda, Bupati mengaku telah bersepakat untuk mempersiapkan dua tempat, yaitu Balai Latihan Kerja (BLK) Kabupaten, dan Sanggar Kegiatan Bersama (SKB) sebagai lokasi isolasi.

Di tingkat Kecamatan pun, Bupati menyebut pihaknya telah mendorong pemangku wilayah untuk mempersiapkan loasi isolasi komunal dalam rangka antisipasi situasi terburuk. “Demi menghindari munculnya kondisi terburut itulah, dalam kesempatan ini saya meminta agar warga Wonosobo yang pulang dari daerah terjangkit agar secara sadar melaksanakan protokol isolasi mandiri di rumah masing-masing, minimal 14 hari meskipun saat diperiksa oleh tenaga kesehatan dinyatakan sehat,” tandasnya. Para pemudik, juga diminta Bupati untuk tidak melakukan kontak fisik bahkan dengan kalangan keluarga demi menghidarkan potensi penularan virus, mengingat setiap orang bisa menjadi pembawa (Carrier) virus yang kini telah menelan korban jiwa lebih dari 27 Ribu jiwa di seluruh dunia tersebut.

Subscribe to this RSS feed