LRA 2017

A+ A A-

Dalam 2 Minggu 8 Orang Meninggal Karena Covid-19, Warga Wonosobo Diimbau Waspada Dan Kooperatif

Jumlah akumulasi warga terkonfirmasi positif Covid-19 di Kabupaten Wonosobo, sampai pada Senin (28/9/2020) telah mencapai 554 kasus, dengan rincian 352 sembuh, 189 dalam masih perawatan, dan 13 lainnya dinyatakan meninggal dunia. Pertambahan massif terjadi dalam dua pekan terakhir, atau mulai Minggu ke 38 hingga akhir Minggu ke 39, yaitu mencapai 145 kasus, dengan tambahan kasus meninggal sebanyak 8 orang. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan, sekaligus Juru Bicara Covid-19 Kabupaten, melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, DR Jaelan membenarkan tren kenaikan kasus Covid-19 di Kabupaten Wonosobo selama Minggu ke-38 dan 39 memang menampilkan jumlah yang memprihatinkan. “Benar, bahwa selama 2 Minggu terakhir ini peningkatan penemuan kasus dengan gejala berat bahkan hingga menyebabkan meninggal dunia memang layak untuk menjadi perhatian sangat serius kita semua,” tutur Jaelan, dalam keterangannya via telepon pada Senin (28/9).

Pemerintah Kabupaten, ditegaskan Jaelan tidak tinggal diam dengan kondisi tersebut, karena upaya penanganan dan pencegahan serius yang ditunjukkan melalui serangkaian regulasi resmi, serta tindakan nyata di lapangan menurutnya sudah sangat maksimal. Namun demikian, di sisi lain ia mengaku menghadapi sebagian pihak yang justru kurang kooperatif dengan penatalaksanaan protokol kesehatan dalam rangka pencegahan Covid-19. “Di sisi lain, kita juga masih menghadapi penolakan untuk uji swab bagi pelacakan dari kontak erat kasus konfirmasi, penolakan isolasi di gedung yang disediakan Pemkab, hingga penolakan kasus suspek dan konfirmasi meninggal yang mestinya pemulasaraan nya harus dengan protokol Covid-19,” lanjutnya.

Ia berharap kedepan warga masyarakat dan seluruh pihak lebih kooperatif terhadap upaya pencegahan dan penanganan Covid-19 di Kabupaten Wonosobo, mengingat dalam situasi pandemi seperti saat ini, dibutuhkan kolaborasi kontributif semua elemen. “Kami berharap ada kesadaran untuk saling mendukung, selain dengan penerapan protokol kesehatan oleh warga masyarakat, juga kerjasama dalam pencegahan dan deteksi dini, demi menghindari akibat fatal karena keterlambatan penanganan yang sampai menyebabkan meninggal dunia,” tandasnya.

Selaras dengan harapan Jaelan, Tim Terpadu Penegakan Protokol Kesehatan Kabupaten Wonosobo bersama unsur TNI-Polri kembali bergerak ke wilayah Leksono untuk menggugah kesadaran warga setempat dalam hal implementasi gerakan 3M, yaitu mengenakan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak dalam interaksi sosial. Kepala Bidang Ketentraman dan Ketertiban Umum Satpol PP, Hermawan Animoro mengaku masih menemukan 80 orang warga yang harus berhadapan dengan petugas serta menjalani sanksi administratif akibat tidak mengenakan masker. Selain di Leksono, operasi penegakan masker pada hari yang sama disebut Hermawan juga digelar Satgas Covid-19 Kecamatan Kejajar dan Kecamatan Watumalang. “Masih terus kita upayakan penyadaran warga masyarakat akan pentingnya protokol kesehatan demi mencegah penyebarluasan virus Corona di Kabupaten Wonosobo, semoga semakin hari jumlah pelanggaran terus berkurang seiring dengan semakin sadarnya warga masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan,” tandasnya.

186 Warga Terjaring Operasi Protokol Kesehatan Di Selomerto

Tim Gabungan Penegakan Protokol Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Dan Kabupaten Wonosobo menggelar operasi di wilayah Selomerto, Minggu (27/9/2020). Tak kurang dari 186 warga yang tengah berkendara hingga penumpang angkutan umum yang melintas di Jalan Banyumas Dan area Pasar Selomerto, terjaring lantaran tidak mengenakan masker pelindung. Demi menyadarkan mereka akan pentingnya perlindungan diri dari potensi paparan Covid-19, para petugas pun mengambil tindakan tegas, dengan meminta identitas diri, melakukan pendataan dan meminta mereka untuk hadir dalam sidang pembinaan di Kantor Satpol PP Wonosobo. Sementara, bagi pelanggar Protokol Kesehatan yang tidak membawa identitas, mereka langsung diminta untuk membeli masker, serta menerima sanksi fisik ringan sesuai kemampuan.

"Prinsipnya masih seperti operasi Penegakan Protokol Kesehatan biasa, yaitu untuk menggugah kesadaran warga masyarakat dan menyampaikan edukasi perihal pentingnya mencegah agar tidak tertular virus Corona," tutur Kasatpol PP Kabupaten Wonosobo Haryono, melalui Kabid Ketentraman Dan Ketertiban Umum, Hermawan Animoro ketika dihubungi via telepon. Tim Gabungan Provinsi Dan Kabupaten, menurut Hermawan masih terdiri dari lintas unsur, yaitu Satpol PP Provinsi, TNI-POLRI dari Kodam IV Diponegoro Dan Kodim 0707 serta Polda dan Polres, ditambah dari Satgas Covid-19 Kabupaten. Upaya untuk meningkatkan pemahaman warga masyarakat akan bahaya Covid-19 yang di wilayah Selomerto telah menginfeksi 23 orang, diakui Hermawan memerlukan kesabaran, mengingat sebagian besar warga yang terjaring masih mengaku lupa kenakan masker, atau bahkan belum punya sama sekali.

Kepada setiap warga yang ditemui, para petugas disebut Hermawan juga selalu berupaya mengingatkan gerakan 3M, agar mereka tak lalai dengan kewajiban mengenakan masker saat berada di luar rumah, mencuci tangan dengan sabun secara teratur, hingga agar mereka mengingat jarak aman interaksi sosial, yaitu 1,5 sampai 2 meter. "Harapan kami mereka nantinya semakin paham dan sadar bahwa virus Corona memang berbahaya, namun bisa dicegah agar tak menular, salah satunya dengan 3M secara disiplin," tandasnya.

Akhir Pekan, Operasi Penegakan Protokol Kesehatan Sisir Wilayah Sapuran

Kegiatan terpadu operasi Penegakan Protokol Kesehatan dalam rangka pencegahan Covid-19 di Kabupaten Wonosobo, pada Sabtu (26/9/2020) menyisir wilayah Kecamatan Sapuran. Kasatpol PP Haryono melalui Kabid Ketentraman Dan Ketertiban Umum, Hermawan Animoro menegaskan, Tim Gabungan Kabupaten dan Provinsi Jawa Tengah tak mengendorkan aktivitas meski berada di masa-masa libur akhir pekan. Tetap bergeraknya Tim Gabungan dari unsur Satpol PP, TNI-Polri dari Kodam IV Diponegoro, Polda Jateng, Kodim 0707, Polres Wonosobo, dan Dinas Perkim Hub tersebut, diakui Hermawan tak lepas dari perkembangan pada 5 hari terakhir, dimana pertambahan kasus terkonfirmasi positif Covid-19 mencapai 45 orang, sehingga hingga Sabtu (26/9) total akumulasi kasus telah berada pada angka 519 orang. "Update data di Website pada hari ini total kasus 519, 162 dalam perawatan, 346 dinyatakan Sembuh, sementara 11 orang dinyatakan meninggal dunia," ungkap Hermawan saat ditemui di sela Operasi Protokol Kesehatan di kawasan alun-alun Sapuran.

Dihitung sejak Selasa (22/9), Hermawan menyebut perbandingan pertambahan kasus dengan pertambahan angka kesembuhan adalah 45 : 35, alias pertambahan kasus adalah 10 orang lebih banyak. Hal tersebut, menurutnya mesti menjadi perhatian serius semua pihak, mengingat dengan laju pertambahan kasus yang semakin banyak, kapasitas tampung di 3 rumah sakit rujukan, serta 4 gedung karantina sementara juga terbatas. "Karena itulah kami terus berupaya untuk mengedukasi warga masyarakat agar semakin menyadari bahaya virus Corona yang saat ini masih ada di sekitar kita, dengan tetap mematuhi Protokol Kesehatan," lanjutnya.

Dari hasil operasi di Sapuran dan sekitarnya, Hermawan mengakui masih menemukan tak kurang dari 166 pengendara kendaraan bermotor dan penumpang angkutan umum yang tidak menggunakan masker. "Kepada pengendara kendaraan bermotor, pengguna jalan dan penumpang angkutan umum yang kedapatan tidak menggunakan masker  kami minta identitasnya untuk kemudian diminta hadir di Kantor Satpol PP pada Hari Rabu, 30 September 2020 untuk melaksanakan pembinaan," tandasnya. Sementara bagi pelanggar Protokol Kesehatan yang tidak membawa identitas, petugas mengarahkan untuk membeli masker dan diberikan sanksi fisik ringan maupun sanksi sosial lain.

Penegakan Protokol Kesehatan Digelar Siang-Malam, Ketaatan Warga Diharapkan Meningkat

Kegiatan Operasi Penegakan Protokol Kesehatan di Kabupaten Wonosobo selama sepekan terakhir digelar sangat masif. Hampir setiap hari, dan berlangsung siang-malam, bahkan hingga dini hari. Tim gabungan terpadu Penegakan Protokol Kesehatan bahkan kini diperkuat personil dari Satpol PP Provinsi Jawa Tengah, Kodam IV Diponegoro, Polda Jateng, dan Badan Intelijen Negara (BIN). Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Wonosobo, Haryono menyebut upaya untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19, yang hingga Jumat (25/9) telah menginfeksi 510 orang dimana 10  diantaranya meninggal dunia, memerlukan keseriusan dan keberlanjutan. "Demi menanamkan kesadaran warga akan pentingnya mematuhi Protokol Kesehatan dalam rangka pencegahan paparan virus Corona ini, maka kita memaksimalkan seluruh potensi yang ada," tutur Haryono saat ditemui usai apel personil di halaman kantor Satpol PP, Sabtu (26/9/2020).

Dalam beberapa kali operasi tersebut, baik yang digelar di kawasan Kota maupun di sejumlah wilayah, para petugas diakui Haryono masih berupaya menerapkan tindakan persuasif dalam memberikan sanksi kepada para pelanggar aturan Protokol Kesehatan dan jam malam. "Sanksi bagi pengguna jalan, baik pengendara maupun pejalan kaki, sampai penumpang angkutan umum masih bersifat administratif seperti diminta KTP, diminta pushUp, menyapu jalan hingga menghadiri sidang pembinaan di Kantor Satpol PP," beber Haryono. Sementara bagi para pelaku usaha yang masih melanggar aturan jam malam, pihak petugas disebut Haryono mulai menerapkan sanksi lebih tegas, yaitu mengamankan perlengkapan usaha, seperti tabung gas sampai peralatan memasaknya. Dengan tindakan tersebut ia berharap agar warga masyarakat umum turut berpartisipasi aktif memutuskan rantai penyebaran Covid-19 di Kabupaten Wonosobo. "Kesadaran untuk mematuhi 3M, mengenakan masker di luar rumah, mencuci tangan secara teratur, dan menjaga jarak aman serta menghindari kerumunan maupun keramaian kami harapkan terus meningkat sehingga tidak ada lagi yang harus menerima sanksi," tegasnya.

Kepala Bidang Ketentraman Dan Ketertiban Umum Satpol PP Hermawan Animoro menambahkan, jajaran Tim Penegakan Protokol Kesehatan akan terus berupaya menggugah kesadaran warga masyarakat, baik melalui operasi rutin, maupun edukasi langsung. Dalam sepekan terakhir ia mengakui masih ratusan warga yang terjaring operasi, termasuk yang terakhir digelar pada Kamis malam (24/9) hingga Jumat dinihari, dan Jumat siang (25/9) sampai sore hari. "Pada Jumat kemarin kami menindak 250 pengendara motor dan penumpang angkutan umum tanpa masker, di 2 ruas jalan yaitu Jalan Sukarno - Hatta dan Jalan Diponegoro," bebernya. Kedepan, ia dan Tim Giat terpadu berharap jumlah warga yang terjaring razia terus menurun sampai benar-benar tidak ada lagi warga yang tidak mematuhi Protokol Kesehatan.

Jumat Berkah Di Pendopo Wakil Bupati, Beli Sayuran Langsung Ke Petani, Dibagi Gratis Ke Kaum Dhuafa  

Program Canthelan Jumat Berkah yang telah berlangsung sejak awal masa pandemi Covid-19 di Pendopo Wakil Bupati Wonosobo, turut berkontribusi menjadi solusi bagi terpuruknya komoditas pertanian lokal. Koordinator program, Ani Agus Subagiyo menyebut pihaknya langsung membeli komoditas sayuran dari petani lokal, yang beberapa waktu ini mendapat pukulan karena harganya jatuh di titik terendah sehingga banyak yang tak terserap pasar. “Dari para petani kami membeli sayuran yang tidak terserap pasar dengan harga yang wajar sehingga mereka tidak mengalami kerugian, kemudian kami bungkus dalam paket-paket untuk dibagikan gratis kepada warga masyarakat, khususnya kaum dhuafa yang saat ini masih mengalami kesulitan lantaran pandemi Covid-19 berkepanjangan,” tutur Ani, saat ditemui di sela kegiatan Canthelan Berkah, di halaman Pendopo Wabup, Jumat (25/9/2020).

Buruh gendong, kusir dokar, pedagang keliling, hingga pengemudi ojek online dan warga umum lainnya diakui Ani termasuk yang menjadi sasaran program Canthelan berkah. Selain sayuran, di dalam setiap paketnya disebut Ani berisi, mie kering dan sejumlah bumbu dapur untuk mendukung nutrisi keluarga. “Tidak sampai 2 jam paket-paket yang kami sediakan lebih dari 500 bungkus sudah terdistribusi karena memang kami berupaya agar secepatnya bisa diterima dan dimanfaatkan warga demi mendukung kebutuhan pangan bernutrisi mereka,” tutur perempuan yang akrab dengan sapaan Bunda Ani itu. Menurutnya, banyak warga yang ingin berkontribusi dalam upaya meringankan beban sesama yang saat ini tengah terdampak pandemi, namun mereka tidak bisa melakukannya sendiri. Melalui Jumat berkah tersebut, donasi seberapapun besarnya akan dioptimalkan sehingga semakin banyak lagi warga tak mampu yang bisa memperoleh manfaatnya.

Menanggapi solidaritas yang digalang kaum ibu untuk warga masyarakat terdampak Covid-19 tersebut, Wakil Bupati Agus Subagiyo mengaku sangat apresiatif. Ia menyebut saat ini memang dibutuhkan banyak komunitas yang memiliki kemampuan untuk membantu sesama, sehingga masa pandemi wabah virus corona yang saat ini masih berlangsung bisa dihadapi bersama-sama. “Selain bantuan dari pemerintah melalui berbagai skema yang sudah ada, saya melihat masih banyak warga yang berkeinginan untuk turut berpartisipasi demi meringankan beban saudaranya,” ungkap Wabup.

Adanya kemerosotan harga pertanian yang memukul ekonomi para petani Wonosobo, diakui Agus saat ini juga telah direspon pemerintah Kabupaten dengan upaya menggandeng BUMD, TNI dan Polri untuk bisa membeli komoditas pertanian dengan harga wajar, untuk kemudian didistribusikan dalam kemasan seharga Rp 10.000 per paket kepada para ASN dan anggota TNI-Polri. Dengan upaya tersebut, ditambah adanya kepedulian dari kelompok-kelompok komunitas yang bersedia turut membantu kesulitan para petani, Agus optimis masa-masa sulit yang harus dihadapi gegara Covid-19 ini akan bisa  dilalui. “Kuncinya memang kebersamaan dan kegotongroyongan sehingga kita semua bisa keluar dari keprihatinan akibat Covid-19 ini dengan selamat, tetap sehat dan bangkit untuk menjadi lebih maju lagi,” tandas Wabup.  Warga Wonosobo, diminta Wabup tetap harus taat pada protokol kesehatan di masa adaptasi kebiasaan baru, seperti disiplin mencuci tangan, menjaga jarak aman ketika berada di keramaian, serta disiplin mengenakan masker agar tidak ada lagi di antara warga Wonosobo yang terpapar virus corona.

Irigasi Tak Lancar, Warga Gondang Ingin Angkat Ulu-Ulu

Peliknya masalah tata kelola air untuk irigasi pertanian di Desa Gondang, Kecamatan Watumalang membuat warga dan jajaran pemerintah Desa setempat menyepakati pengangkatan seorang petugas khusus dengan menggunakan anggaran resmi desa. Meski tak dapat dianggarkan dari sumber dana transfer desa, Kades setempat berkomitmen untuk tetap mengangkat petugas pengairan yang lazim disebut Ulu-Ulu tersebut, dengan menggunakan sumber anggaran lain, yaitu Pendapatan Asli Desa (PADes). “Karena kepentingan warga masyarakat Gondang yang sangat mengandalkan sektor pertanian sebagai mata pencaharian mereka, maka kami bersama Badan Permusyawaratan Desa telah menyatakan siap dan sepakat untuk mendanai Ulu-Ulu dari skema pendapatan asli desa,” terang Abadi, Kades Gondang ketika dikonfirmasi via telepon pada Jumat (25/9/2020).

Perihal sulitnya para petani mendapatkan air untuk lahan sawahnya mereka, Abadi mengaku telah berlangsung lama, sehingga warga mengalami kesulitan untuk mengoptimalkan potensi hasil pertanian mereka. Hal itu, menurut Abadi akhirnya diangkat dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa, yang digelar pada Jumat (18/9) lalu, dengan menghadirkan Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten, dan Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Watumalang. Dari Musdes itulah, Abadi menyebut sumber dari tidak lancarnya irigasi pertanian diketahui karena tidak tertibnya petani dalam membuat pipa-pipa pembagi air dan adanya endapan (sedimentasi). “Penyebabnya sudah diketahui dari keterangan Kabid Sumber Daya Air DPU, Bapak Wahyudi sehingga salah satu solusinya adalah penguatan peran Ulu-Ulu untuk pengendalian dan pengawasan penggunaan air irigasi oleh Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), agar para petani tak lagi berebut air di malam hari seperti selama ini,” bebernya.

Terkait penganggaran untuk Ulu-Ulu, Kepala seksi Pemerintahan Kecamatan Watumalang, Saiful Azhar ketika dihubungi via telepon menjelaskan, bahwa secara kelembagaan Pemerintah Desa Gondang memiliki Susunan Organisasi dan Tata Kerja (SOTK) sudah terisi penuh, sehingga tidak memungkinkan untuk ditambahkan lagi tenaga di luar perangkat desa. “Hal ini erat kaitannya dengan penganggaran penghasilan petugas Ulu-ulu yang tidak memungkinkan lagi apabila didanai dari Dana Transfer Desa,” tegasnya. Karena itulah, apabila pihak Desa memang telah menyepakati untuk mendanai dari sumber lain yaitu PADes, maka hal itu bisa dibenarkan karena tidak akan mengganggu pertanggungjawaban penggunaan Dana Transfer.

Tim Gabungan Amankan Puluhan Tabung Gas Melon

Tim gabungan penegakan protokol kesehatan dalam rangka pencegahan Covid-19 di Kabupaten Wonosobo mulai mengambil tindakan lebih tegas terhadap para pelanggar aturan jam malam. Selain sanksi administratif berupa hukuman fisik dan sosial bagi warga yang diketahui tak mengenakan masker saat beraktifitas di luar rumah, sanksi berupa penyitaan tabung gas, mulai diterapkan bagi pemilik usaha kuliner yang masih buka di luar ketentuan jam malam. "Benar, semalam kami bersama tim gabungan dari Satpol PP Kabupaten dan Provinsi Jateng, TNI - Polri dari KODAM 4 Diponegoro dan Polda Jateng serta Kodim dan Polres, BIN, dan Dinas Perkim Hub telah mengamankan 38 buah tabung gas elpiji 3 kilogram, atau gas melon milik 36 PKL, restoran maupun Cafe yang buka di atas jam 22.00 WIB," ungkap Kepala Seksi Ketentraman dan Ketertiban Umum Satpol PP, Hermawan Animoro, di Mako Satpol PP, Jumat (25/9/2020). 

Kepada para pemilik usaha yang melanggar ketentuan jam malam tersebut, Hermawan mengakui petugas juga melakukan pendataan dan meminta identitas diri mereka. Baik tabung gas atau KTP, menurut Hermawan dapat diambil di Kantor Satpol PP setelah para pemiliknya hadir dan mendapatkan pembinaan. Diharapkan, setelah menerima pembinaan, para pemilik usaha yang masih belum bersedia menaati aturan jam malam, akan lebih sadar akan pentingnya penerapan protokol kesehatan demi memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di Wonosobo. 

Selain pelaku usaha, dalam Operasi Terpadu yang menyasar toko, PKL, Tempat Hiburan malam dan warung makan atau Cafe di kawasan Kota Wonosobo dan wilayah Kertek itu, Hermawan juga menyebut masih ada warga masyarakat yang terjaring tak mengenakan masker serta masih berada di luar rumah di atas ketentuan jam malam. "Untuk warga masyarakat yang masih belum mengenakan masker sejumlah 7 orang, 2 orang pengunjung Cafe dan 5 lainnya pengguna jalan yang melintas di tengah operasi gabungan, telah diberikan sanksi berupa hukuman fisik ringan," imbuhnya.

Giat terpadu operasi penegakan protokol Kesehatan di Kabupaten Wonosobo, beberapa waktu terakhir diakui Hermawan kian masif dan intensif mengingat situasi penyebaran virus korona juga menunjukkan grafik pertambahan signifikan. "Per hari Kamis (24/9) kasus konfirmasi positif Covid19 secara kumulatif sudah mencapai 503, dengan rincian 338 orang sudah sembuh, kemudian 156 masih dirawat, dan yang dinyatakan meninggal dunia juga bertambah menjadi 9 orang," pungkas Hermawan.

Lewati Puncak Serangan Gelombang Kedua, Pertambahan Mingguan Covid-19 Masih Naik-Turun

Perkembangan jumlah kasus Covid--19 di Kabupaten Wonosobo telah memasuki minggu ke 39, dengan angka terakhir secara kumulatif mencapai 487 terkonfirmasi positif. Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten, dr Muhamad Riyatno melalui Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Dinas Kesehatan, DR Jaelan menyebut Wonosobo telah melewati masa puncak pertambahan kasus. “Puncak pertambahan adalah pada minggu ke 35, yaitu pada akhir Agustus, tanggal 23 – 29 dengan pertambahan kasus mencapai 130 konfirmasi positif,” ungkap Jaelan ketika dihubungi melalui sambungan telepon, Rabu (23/9/2020). Setelah masa puncak tersebut, kasus mingguan disebut Jalen berangsur-angsur menurun, yaitu 63 kasus pada Minggu ke 36, 34 kasus pada Minggu ke 37 dibarengi dengan kesembuhan sebanyak 54, dan naik menjadi 111 kasus pada minggu ke 38.

Dari total kasus sebanyak 487 tersebut, pemegang gelar Doktor bidang kesehatan dari UGM Yogyakarta itu merinci ada 315 yang telah dinyatakan sembuh, 164 masih dalam perawatan di RSUD Setjonegoro, RSI Wonosobo, RS PKU Muhammadiyah, dan 3 gedung karantina sementara BLK, SKB dan Bapelkes Provinsi Jateng di Sumberan. “Sementara 8 lainnya telah dinyatakan meninggal dunia, dan telah dimakamkan dengan protokol kesehatan standar Covid-19,” terangnya. Kondisi yang masih belum bisa diklaim stabil tersebut, menurut Jaelan membutuhkan perhatian dari semua pihak terkait, termasuk di dalamnya masyarakat luas agar tetap waspada terhadap penyebaran virus yang juga dikenal dengan nama SARS Cov-2 itu. Ia meminta agar warga tak lengah dengan tetap menerapkan protokol kesehatan dalam masa adaptasi kebiasaan baru (AKB), seperti tetap mengenakan masker saat beraktifitas di luar rumah, disiplin mencuci tangan dengan sabun setelah menyentuh benda-benda di sekitarnya, serta menjauhi keramaian dan kerumunan yang berpotensi menjadi media penularan Covid-19.

Merespons perkembangan terkini penanganan Covid-19, tim gabungan operasi penegakan protokol kesehatan Kabupaten semakin gencar menggelar razia di sejumlah lokasi. Kasatpol PP Haryono melalui Kepala Bidang Ketentraman dan Ketertiban Umum Satpol PP, Hermawan Animoro ketika dihubungi melalui sambungan telepon, menyebut tim dari unsur Satpol PP Jateng dan Kabupaten, Kodam IV Diponegoro, Polda Jateng, Polres Wonosobo dan Kodim 0707 serta Dinas Perkimhub Kabupaten dibagi di dua lokasi, yaitu di kawasan Alun-Alun Kota dan Terminal Mendolo. “Operasi terpadu penegakan protokol kesehatan pada hari ini masih menemukan pengguna jalan tidak bermasker, sebanyak 159, 35 di kawasan Alun-alun dan 124 lainnya di posko pengawasan terminal Mendolo,” terang Hermawan. Kepada para pengguna jalan yang terjaring operasi tersebut dan tidak membawa identitas diri, petugas menerapkan sanksi dengan mewajibkan yang bersangkutan membeli masker, serta sanksi sosial dan fisik tambahan lainnya. “Bagi yang membawa identitas diri, maka kami meminta agar yang bersangkutan hadir di kantor Satpol PP pada Senin (28/9) untuk mendapatkan pembinaan,” pungkasnya.

Toga Tomas Sepakat Dukung Syiar Pencegahan Covid-19 Di Wonosobo

Keterlibatan tokoh agama dan tokoh masyarakat dalam upaya memutus mata rantai penularan Covid-19 di Kabupaten Wonosobo dinilai akan lebih efektif, mengingat kondisi sosial kultural warga di wilayah tengah pulau Jawa ini memang dikenal masih sangat dekat dengan para alim ulama. Mengingat hal itulah, Pemerintah kemudian menerbitkan maklumat bersama Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat dan Pemerintah tentang pelaksanaan kegiatan keagamaan, kemasyarakatan dan pemulasaraan Jenazah Di Masa Pandemi Covid-19 di Kabupaten Wonosobo. Selain itu, upaya dialogis juga dikedepankan, salah satunya dengan menggandeng para pemuka agama dan tokoh publik untuk duduk bersama demi membahas langkah-langkah strategis agar warga masyarakat lebih sadar dengan pentingnya protokol kesehatan dalam rangka pencegahan Covid-19.

Dalam diskusi bersama unsur pemerintah Kabupaten, Kementerian Agama, MUI, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Rifaiyah, Persatuan Gereja dan paguyuban Radio se-Wonosobo yang digelar di Ruang Rapat Utama Dinas Kominfo, Rabu (23/9/2020) tersebut, para Toga maupun Tomas bersepakat untuk mendukung gerakan pencegahan Covid-19, salah satunya dengan upaya syiar keagamaan. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika, Eko Suryantoro ketika ditemui seusai memimpin rakor menjelaskan bahwa upaya untuk menggandeng kalangan pemuka agama dan tokoh masyarakat tersebut merupakan ikhtiar bersama demi menekan pertambahan kasus Covid-19 di Kabupaten Wonosobo yang kini secara kumulatif telah mencapai 487 dengan 8 diantaranya dinyatakan meninggal dunia. “Pada intinya kami berupaya untuk mengajak para seluruh pihak, termasuk di dalamnya pemuka agama dan tokoh masyarakat agar turut berpartisipasi aktif dalam mencegah penyebaran virus korona melalui syiar-syiar keagamaan di lingkungan masing-masing,” tutur Eko.

Dari rembug bersama tersebut, sejumlah usulan dari para tokoh agama maupun tokoh masyarakat dan perwakilan radio, menurut Eko akan sangat membantu pemerintah dalam upaya penyebarluasan edukasi kepada publik terkait ketaatan terhadap protokol kesehatan. “Seluruhnya menyampaikan ide-ide positif yang membangun, di antaranya adalah mereka siap untuk memberikan imbauan melalui radio, baik dalam format sosialisasi maupun talkshow tematik,” terangnya. Dari kesepakatan tersebut, Eko mengaku ia optimis kedepan langkah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, agar lebih taat terhadap aturan pemerintah terkait protokol kesehatan semakin terarah, sehingga upaya untuk memutus mata rantai penularan virus yang telah merenggut nyawa lebih dari 975 ribu manusia di seluruh dunia itu bakal tuntas lebih cepat.

Subscribe to this RSS feed