Geografis Kabupaten Wonosobo

A+ A A-

Geografis Kabupaten Wonosobo

Rate this item
(4 votes)

1. Geografi

    a. Letak

       Kabupaten Wonosobo berjarak 120 km dari ibu kota Jawa Tengah (Semarang) dan 520 km dari Ibu kota Negara (Jakarta), berada pada rentang 250 dpl - 2.250 dpl dengan dominasi pada rentang 500 dpl - 1.000 dpl sebesar 50% (persen) dari seluruh areal, menjadikan ciri dataran tinggi sebagai wilayah Kabupaten Wonosobo dengan poisi pasial berada di tengah-tengah Pulau Jawa dan berada diantara jalur pantai utara dan jalur pantai selatan.

       Selain itu menjadi bagian terpenting dari jaringan Jalan Nasional ruas jalan Buntu - Pringsurat yang memberi akses dari dan menuju dua jalur strategis nasional tersebut.

       Kabupaten Wonosobo merupakan salah satu dari 35 Kabupaten/ Kota di Provinsi Jawa Tengah yang terletak pada 70.11'.20" sampai 70.36'.24" garis Lintang Selatan (LS), serta 1090.44'.08" sampai 1100.04'.32" garis Bujur Timur (BT), dengan luas wilayah 98.468 hektar (984,68 km2) atau 3,03% luas Provinsi Jawa Tengah.

    b. Luas dan Batas Wilayah Administrasi

       Kabupaten Wonosobo merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah, dengan Ibu Kota Wonosobo dan terletak 120 km sebelah Barat Laut Kota Semarang. Secara geografis Kabupaten Wonosobo berada pada 70.11'.20" sampai 70.36'.24" garis Lintang Selatan (LS), serta 1090.44'.08" sampai 1100.04'.32" garis Bujur Timur (BT), dengan luas wilayah 98.468 hektar (984,68 km2) atau 3,03% luas Provinsi Jawa Tengah. Luas wilayah sebesar itu secara administrasi terbagi dalam 15 kecamatan. Perincian luas dari tiap-tiap kecamatan dapta ditunjukkan pada Tabel 1.1. di bawah ini.

 

Tabel 1.1. Luas Wilayah Kabupaten Wonosobo

No

Kecamatan

Luas Wilayah

Luas (Ha)

Persentase (%)

1

Wadaslintang

          12.716,00

                   12,91

2

Kepil

            9.387,00

                     9,53

3

Sapuran

            7.772,00

                     7,89

4

Kalibawang

            4.782,00

                     4,86

5

Kaliwiro

          10.008,00

                   10,16

6

Leksono

            4.407,00

                     4,48

7

Sukoharjo

            5.429,00

                     5,51

8

Selomerto

            3.971,00

                     4,03

9

Kalikajar

            8.330,00

                     8,46

10

Kertek

            6.214,00

                     6,31

11

Wonosobo

            3.238,00

                     3,29

12

Watumalang

            6.823,00

                     6,93

13

Mojotengah

            4.507,00

                     4,58

14

Garung

            5.122,00

                     5,20

15

Kejajar

            5.762,00

                     5,85

Kabupaten Wonosobo

          98.468,00

                100,00

Sumber : BPS Kabupaten Wonosobo, 2016

 

Batas wilayah Kabupaten Wonosobo dapat dirinci sebagai berikut :
  1. Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Kendal dan Kabupaten Batang;
  2. Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Magelang;
  3. Sebelah selatan berbatasab dengan Kabupaten Purworejo dan Kabupaten Kebumen;
  4. Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Kebumen.

Gambar 1.1 Peta Administrasi Kabupaten Wonosobo


Keadaan topografi wilayah Kabupaten Wonosobo secara umum merupakan perbukitan dan pegunungan dengan sebagian besar (56.37%) kemiringan lereng antara 15 - 40%. Ditinjau daari ketinggiannya, Kabupaten Wonosobo terletak pada ketinggian 250 - 2.250 mdpal. Kabupaten Wonosobo ditinjau dari struktur geologi termasuk dalam jenis pegunungan muda dan terletak di bebatuan prakwater yang sering mengalami bencana alam terutama pada musim penghujan seperti tanah longsor (land slide), gerakan tanah runtuh dan gerakan tanah merayap.

       Kondisi klimatologi Kabupaten Wonosobo secara umum menunjukkan kondisi sebagai berikut :

  1. Beriklim tropis dengan dua musim (penghujan dan kemarau). Selama 2014, hampir sepanjang tahun terjadi hujan dan hanya bulan September tidak hujan sama sekali.
  2. Curah hujan pada tahun 2014 berada pada kisaran 1.660 - 4.049 mm/th.
  3. Suhu udara rata-rata harian 14,3 - 26,50 C.
       Jenis tanah yang terdapat di Kabupaten Wonosobo terdiri dari jenis tanah Andosol (25%), terdapat di Kecamatan Kejajar, sebagian Garung, Mojotengah, Watumalang, Kertek dan Kalikajar; tanah Regosol (40%), tedapat di Kecamatan Kertek, Sapuran, Kalikajar, Selomerto, watumalang dan Garung; dan tanah Podsolik (35%), terdapat di Kecamatan Selomerto, Leksono dan Sapuran (Buku Promosi Potensi Investasi, 1997). 

       Bentuk penggunaan lahan pada tahun 2012 secara umum di Kabupaten Wonosobo dapat dibedakan dalam 13 kategori, yakni lahan sawah pengairan teknis, sawah pengairan setengah teknis, sawah pengairan sederhana, sawah tadah hujan, bangunan pekarangan, tegalan/ kebun, padang rumput, kolam, waduk, hutan negara, hutan rakyat, perkebunan, dan penggunaan lain.

       Variasi bentuk dan luas penggunaan lahan di daerah penelitian pada tahun 2012 cukup besar. Lahan terluas di Kabupaten Wonosobo digunakan untuk tegalan/ kebun sebesar 42,952 ha. Tegalan di Kabupaten Wonosobo digunakan untuk usaha budidaya tanaman kentang, sayuran dan tembakau yang telah menjadi tradisi masyarakat. Sementara itu luas lahan urutan kedua di Kabupaten Wonosobo adalah lahan untuk hutan negara yaitu seluas 35,00 ha. Penggunaan lhan berupa hutan negara tersebar di 15 Kecamatan. Variasi dan luas penggunaan lahan tersebut di atas berkaitan dengan aktivitas manusia, dimana semakin keterogen aktivitas manusia maka semakin bervariasi juga penggunaan lahan yang ada.

2. Klimatologi

       Wonosobo beriklim tropis dengan dua musim dalam setahun yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Rata-rata suhu udara di Wonosobo antara 14,3 - 26,5 derajat Celcius dengan curah hujan rata-rata per tahun berkisar antara 1713 - 4255 mm/tahun. Dengan kondisi tersebut Kabupaten Wonosobo sangat baik untuk pertanian sehingga sektor pertanian merupakan sektor dominan dalam perekonomian.

3. Topografi

       Topografi wilayah Kabupaten Wonosobo memiliki ciri yang berbukit dan bergunung, terletak pada ketinggian antara 200 sampai 2.250 m di atas permukaan laut. Kelerengan merupakan suatu kemiringan tanah dimana sudut kemiringan dibentuk oleh permukaan tanah dengan bidang horizontal dan dinyatakan dalam persen. Kabupaten Wonosobo dibagi menjadi 6 wilayah kemiringan, yaitu :

    1. Wilayah dengan kemiringan antara 0,00 - 2,00% seluas 1052,263 ha atau 1,04% dari seluruh luas wilayah, banyak dijumpai di Kecamatan Selomerto dan Kecamatan Kertek;
    2. Wilayah dengan kemiringan antara 2,00 - 5,00% seluas 22969,5 ha atau 22,89% dari luas seluruh wilayah, banyak terdapat di 13 Kecamatan selain Kecamatan Watumalang dan Kecamatan Kalibawang;
    3. Wilayah dengan kemiringan antara 5,00 - 8,00% seluas 8143,769 ha atau 8,11% dari luas wilayah total, tersebar merata di 14 Kecamatan selain Kecamatan Watumalang;
    4. Wilayah dengan kemiringan antara 8,00 - 15,00% seluas 55434,85 ha atau 55,2% dari seluruh luas wilayah yang tersebar secara merata di semua Kecamatan;
    5. Wilayah dengan kemiringan antara 15,00 - 25,00% seluas 11101,6 ha atau 11,06% dari seluruh luas wilayah terdapat di semua kecamatan kecuali Kecamatan Wonosobo;
    6. Wilayah dengan kemiringan antara 25,00 - 40,00% seluas 1479,631 ha atau 1,47% dari luas wilayah total, terdapat di Kecamatan Kejajar, Garung, dan Kalikajar; dan
    7. Wilayah dengan kemiringan lebih dari 40,00% seluas 142,362 ha atau 0,14% dari luas wilayah total, terdapat di Kecamatan Kejajar.

Daerah tersebut merupakan wilayah yang harus dilindungi agar dapat berfungsi sebagai pelindung hidrologis dan menjaga keseimbangan dan lingkungan hiup. Jenis penggunaan saat ini adalah hutan, tegalan, perkebunan.

4. Geologi

       Berdassarkan pembagian zona fisiografi Pulau Jawa oleh Van Bemmelen (1949), Wilayah Kabupaten Wonosobo termasuk dalam jalur fisiografi Pegunungan Serayu Selatan Bagian Utara dan menempati bagian tengah zona fisiografi tersebut. Zona ini didominasi oleh endapan gunung api kuarter. Endapan gunung api kuarter masih dapat diamati kenampakan kerucut vulkaniknya sperti Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing, sedangkan dibagian lain gunung api Dieng yang berumur lebih tua meninggalkan sisa erupsi yang membentuk plateau (dataran tinggi).

       Sebagai daerah yang terletak di sekitar gunung api muda, tanah di Wonosobo termasuk subur. Hal ini sangat mendukung perkembangan pertanian, sebagai mata pencaharian utama masyarakat Wonosobo. Komoditi utama pertanian yang dihasilkan adalah teh, tembakau, berbagai jenis sayuran dan kopi. Selain itu, juga cocok untuk pengembangan budidaya Jamur, Carica Pepaya dan Asparagus dan beberapa jenis kayu yang merupakan komoditi ekspor non migas serta beberapa jenis tanaman yang merupakan tanaman khas Kabupaten Wonosobo seperti Purwaceng, Gondorukem dan Kayu Putih.

       Di Kawasan Dieng banyak dijumpai depresi yang terbentuk oleh pusat erupsi vulkanik pada jaman Pleistocene yang kemudian terisi olh endapan dan sisa tumbuhan. Di samping itu terdapat hulu sungai serayu dengan anak sungai yang berada di bagian selatan, yakni di ujung timur Pegunungan Serayu Selatan yanair minumg dibatasi oleh Zone Patahan. Banyaknya gunung di Wonosobo juga menjadi umber mata air yang mengalir ke sungai Serayu, Bogowonto, Kali Galuh, Kali Semagung, Kali Sanggrahan dan Luk Ulo. Sungai-sungai ini sebagian telah digunakan untuk irigasi, pertanian dan air minum. Sungai serayu yang menambah debit air di Telaga Menjer telah dapat dimanfaaatkan airnya untuk membangkitkan listrik tenaga air. Yang tidak kalah penting dari Kabupaten Wonosobo adalah potensi wisata Dataran Tinggi Dieng (Dieng Plateau) dengan panas bumi (yang telah dimanfaatkan sebagai PLTU), kawah dan panorama yang indah. Selain itu, juga terdapat candi-cani peninggalan Kerajan Mataram Hindu. Semuanya itu adalah ddaya tarik utama bagi wisatawan manca negara maupun domstik untuk berkunjung ke Wonosobo (pemanfaatan panas bumi Dieng).

5. Geomorfologi

       Secara geomorfologi, bentanglahan di Kabuapten Wonosobo, didominasi oleh bentanglahan bentukan dari proses vulkanik. Bentanglahan lainnya berasal dari bentukan denudasional, bentanglahan struktural, bentanglahan fluvial (aliran sungai). Bentukan bentang lahan proses vulkanik yang ada yaitu kubah lava, kerucut gunung api, lereng gunung api, kaki gunung api, perbukitan intrusif batuan gunung api, pegunungan medan lava, perbukitan medan lava, kaldera, danau kaldera, lembah antar gunung api material piroklastik. Konsekuensinya dengan bentanglahan yang di dominasi olh vulkanik, menjadikan wilayah Kabupaten Wonosobo mempunyai topografi yang dominan tidak datar. Hal ini tentunya menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan arah perkembangan dan pembangunan wilayah Kabupaten Wonosobo. Pengembangan wilayah disesuaikan dengan bentukan lahan agar prinsip pembangunan berkelanjutan.

Last modified onThursday, 19 April 2018 10:43
More in this category: « Arti Lambang Daerah

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/sobokab/website/libraries/joomla/filter/input.php on line 656

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/sobokab/website/libraries/joomla/filter/input.php on line 659